AYO! IKUTAN DAPET DUIT GRATIS DARI KOMISI GRATIS KLIK DISINI




Catatan Harian Seorang Apatis

↑ Grab this Headline Animator

Prostitusi di Sanur Dulu dan Kini

October 19, 2009 | Posted in Underground, UnderCover | No Comments »

Prostitusi di Sanur Dulu dan Kini——-
Berawal dari Diskotek Emperan

Sanur tak hanya dikenal sebagai objek wisata. Sanur juga kental dengan warna prostitusi. Tak hanya kini, dulu ketika pariwisata Sanur mulai bergairah, bisnis esek-esek juga tumbuh subur. Awalnya, dari turis Eropa dan Jepang yang meminta pelayanan lebih. Akibatnya, guide pun kelimpungan dan berburu ‘’barang’’ ke Jawa. Bagaimana ceritanya?
——————

BERCERITA tentang Sanur tentunya tak akan habis dalam hitungan hari. Namun, sebagai sebuah penyusuran, tampaknya pengakuan seorang pelaku pariwisata Ketut Ceteg Rurung yang juga politikus ini, sangat menarik untuk dibagi bersama. Ceteg Rurung yang sempat buka kartu kepada Bali Post memiliki banyak kenangan tentang Sanur.

Menurut pengelola biro perjalanan wisata ini, ribut-ribut soal diskotek di Sanur merupakan lagu lama. Diskotek bagi Sanur sudah merupakan embrio awal kembangkitan Sanur, termasuk prostitusinya. ‘’Sanur itu embrio kepariwisataan di Bali. Kuta malah tumbuh pesat setelah diskotek yang dulunya mangkal di Sanur beralih ke Kuta,’’ jelasnya.

Khusus soal berkembangnya prostitusi di Sanur, katanya, tak bisa dilepaskan dari dua momen. Pertama, kedatangan pelaut asing yang memunculkan sejarah Wisma Bahari. Kedua, menjamurnya diskotek emperan. Diskotek-diskotek emperan yang menjamur tahun 70-an ini justru memberikan imbas yang kuat di kalangan penduduk lokal saat itu untuk mengelola bisnis rumah esek-esek.

Cewek Pesanan

Ceteg menguraikan, tahun 1970-an di Sanur sudah terdapat sejumlah diskotek terkenal. Ia dengan pasih menyebut nama Diskotek Bali Bisto, Gasebo, Number One dan Dogis. Diskotek-diskotek ini diminati wisatawan Jepang yang merupakan pasar utama destinasi wisata Sanur saat itu. Selain itu, sejumlah hotel juga mengelola diskotek. Ia menyebutkan Bali Hyatt saat itu memiliki Diskotek Matahari Super Club. Sementara Inna Grand Bali Beach mengelola Bali Hai Super Club. Diskotek-diskotek ini cukup punya nama dan diminati wisatawan.

Tak hanya hentakan musik yang menghangatkan suasana, sejumlah cewek penghibur yang ada di diskotek justru menjadi pemikat intinya. Transaksi seks antara wisatawan dan wanita-wanita penghibur jamak terjadi. Transaksi ini ternyata memberikan keuntungan multi kepada pelaku pariwisata, termasuk warga lokal, mengingat sistem komisi saat itu sudah biasa. Nominalnya juga relatif besar. Pelakunya, sama saja dengan sekarang. Di dalamnya ada aparat, guide, termasuk tramtib. ‘’Saya tak heran jika sekarang komisi tetap menjadi masalah,’’ ujarnya lagi.

Melihat diskotek-diskotek ini tumbuh pesat dan menjanjikan keuntungan berlipat, katanya, sejumlah pengusaha nakal akhirnya menggunakan emperan rumah dan telajakan yang ada untuk membuat diskotek amatiran. Jumlahnya pun sangat banyak. Mereka tetap saja lolos beroperasi, karena sistem upeti sudah berjalan. Diskotek pinggiran ini di kalangan pelaku pariwisata dikenal dengan diskotek emperan. Celakanya, diskotek ini ternyata lebih diminati wisatawan karena aturannya lebih bebas. Diskotek formal zaman itu, pengunjungnya wajib menggunakan dasi dan berkemeja. Sementara di diskotek emperan selain transaksi lebih murah juga lebih liar. ‘’Transaksi seks di diskotek emperan justru lebih gila,’’ ujarnya.

Kelemahan diskotek emperan, hanyalah pada penyediaan tempat setelah transaksi antara cewek penghibur dan wisatawan. ‘’Hotel saat itu terbatas. Pemandu wisata pun mengalihkan tamunya ke rumah-rumah penduduk,’’ ujarnya. Maka, peran guide dalam berkembangnya prostitusi di Sanur tak bisa ditepis.

Ia pun mengenang satu pengalaman menarik. Suatu ketika jumlah tamu Jepang yang datang ke Sanur membludak. Tentunya persediaan cewek penghibur saat itu juga terbatas. Apa yang harus dilakukan? Saat itu orang-orang yang bekerja di bidang ini akhirnya pergi ke sejumlah tempat di Jawa untuk mencari cewek-cewek part time. Puluhan cewek part time pun didatangkan ke Bali. Mereka diinapkan di sejumlah hotel yang ada di Kota Denpasar.

Proses transaksi seks saat itu pun tetap dimediatori pemandu wisata. Cewek-cewek yang didatangkan khusus ini saat itu dikenal dengan sebutkan eksten. Artinya, setelah dipakai lalu dikembalikan. Tarifnya relatif mahal setara Rp 500 ribu – Rp 1 juta saat ini. Makanya jangan heran, banyak pelaku pariwisata yang kaya dan bisa membawa mobil Holden yang tergolong mobil mewah.

Menggiurkan Warga

Bisnis ini ternyata cukup menggiurkan warga lokal, mengingat sistem komisi sudah berjalan. Akhirnya secara perlahan-lahan, warga Sanur akhirnya terbiasa menyediakan rumah-rumah bedeng untuk disewakan. ‘’Dalam tempo relatif singkat, di Sanur saat itu sudah dengan mudah ditemukan tempat-tempat penyewaan rumah untuk kepentingan prostitusi sesaat,’’ jelasnya. Cewek-cewek yang dulunya sembunyi-sembunyi pun mulai terbuka dan terang-terangan. Mereka tetap aman, sepanjang komisinya adil.

Ketika bisnis makin dikelola profesional dan lumrah, katanya, banyak cewek penghibur akhirnya bersuamikan orang lokal. Bahkan, ia mengaku ada cewek penghibur yang juga menikah dengan pejabat dan insinyur. Selebihnya, kata Ceteg, makin terbukanya transaksi ini membuat banyak cewek penghibur yang hamil namun tanpa jelas siapa yang bertanggung jawab. Anak-anak dari WTS ini ada yang diminta orang dan dipelihara. (dir)

Sumber: Bali Post

Satu Jam Bersama Ayam Kampus

January 27, 2009 | Posted in Uncut, Underground | No Comments »

Berkat informasi yang kami peroleh dari seorang petugas keamanan kampus, akhirnya tim kami berhasil mewawancarai paksa seorang mahasiswi yang selama ini kami cari. Ayam kampus, begitulah makhluk yang satu ini biasa disebut. Selain menjadi mahasiswi, cewek berparas cantik dan seksi ini kadang bekerja sebagai SPG salah satu produk rokok, SPG Freelance produk kecantikan, dan aktivis MLM kosmetik.

Saat wawancara (02/07), masih tercatat sebagai mahasiswi sebuah universitas di Denpasar, Fakultas Cateris Paribus jurusan Atur Mengatur. Atas permintaan narasumber, wawancara dilakukan di sebuah kafe di Jalan Diponegoro, Denpasar, yang konon sering dipakai janjian pasangan-pasangan selingkuh.

Setelah basa basi sejenak, berikut sedikit petikan wawancaranya yang dengan beberapa editan (off the record)

“Oke, jadi gimana nih awalnya sampai kamu bisa jadi seperti ini, bisa sedikit diceritain?”

“Awalnya..hmmm..”

 “Ya, misalnya kamu punya masalah apa atau gimana?”

“Oh, ya, awalnya emang gara-gara diputusin pacarku. Aku stress banget.”

“Kapan itu?

“Pas awal-awal kuliah”

“Trus?”

“Ya, gitu, aku udah pacaran lama. Dari kelas satu SMA, dan hubungan kita udah jauh”

“Hmm…”

“Akhir semester satu kita putus. Aku baru tau dia udah punya cewek lain selama satu tahun sejak dia kuliah disini”

“Trus sampai akhirnya jadi gini gimana?

“Ya, itu tadi, udah janji-janji segala macem..aku dah sayang banget sama cowokku sampai-sampai aku ikut kuliah disini gara-gara dia”

“Kapan pertama kali, maaf, kamu  komersilin?”

“Pas lagi stres-stresnya, aku kenal kakak kelasku ikut-ikut ngumpul segala macem. Awalnya aku gak tau kalo dia, kakak kelasku itu, kerjanya nyambi seperti ini. Daripada stress, aku ikut-ikutan ke kafe-kafe gitu cari kenalan”

“Berapa lama sampai kamu kenal bayaran?”

“Oh iya, awalnya emang Sex for Fun aja. SMS, Satu Malam Saja. Kalo kita suka ya bisa”

“Waktu itu belum terima bayaran gitu ya?”

“Ya, kurang lebih gitu”

“Kuliah kamu gimana?”

"Kuliah jadi macet, kacau. Tiap hari diajakin mabuk..dan mungkin karena udah Biasa nge-sex, jadi sehari gak gituan jadi bingung.”

“Trus?”

“Masturbasi aja gak cukup. Nunggu ke kafe kan lama, paling seminggu sekali. Suatu hari ada temen ngajakin keluar, ada yang ngajak kenalan, om-om. Dari situ awalnya aku terima bayaran. Aku gak minta, tapi om itu nitipin uang ke temenku.”

“Akhirnya bisa bener-bener komersil gimana?”

“Hmmm, Om itu sering telfon aku ngajak kencan, lumayan sebulan bisa buat bayar kuliah, bisa beli macem-macem. Tapi cuma sebulan, trus dia pindah ke Kalimantan kalo gak salah, aku jadi gak ada pelampiasan. Sejak itu aku terima order lewat telfon.”

“Cuma telfon aja ya?”

“Ya, cuma lewat telfon aja. Tapi kalo sms gak pernah aku bales.”

“Berapa biasanya sekali call?”

“Rate-nya maksudnya?”

“Ya, itu mungkin”

“Tergantung, short time kadang 200 sampai 300 ribu, long time pernah dikasi 1,5 juta”

“Untuk tempatnya dimana?”

“Yah, tergantung janjiannya, disini kan banyak hotel-hotel atau pondok wisata gitu.”

“Boleh tahu lokasinya di daerah mana?”

“Paling sering aku di daerah renon di jalan … (maaf nama jalan sengaja tidak kami sebutkan karena pertimbangan tertentu), kadang juga di daerah sekitar Gatsu Barat.”

“Ok, untuk pelanggan biasanya siapa aja?”

“Pada dasarnya siapa aja yang mau bayar sesuai rate ya aku service.”

“Berarti semua kalangan nih? He he..”

 “Yang penting duitnya.”

“Gak takut penyakit?”

“Takut ada, tapi aku udah punya langganan dokter kulit. Jadi ya, rutin lah aku check up”

“Ok deh, makasi waktunya ya, lain kali kita bisa ngobrol-ngobrol lagi khan?”

“Gak ah, sama temenku yang lain aja”

“Yang mana?”

“Itu yang aku tunjukin kemarin di pantai, yang tattonya dipungung bawah (maksudnya, sedikit diatas bokong).”

“Sip dah..”

**

Setelah basa-basi sejenak, akhirnya wawancara selesai sekitar pukul sembilan malam.

 

(Tim Apatis 2008 : An, Hr, Ar)

FLASHBACK 2008. POPULAR SEARCH

December 31, 2008 | Posted in Uncut, Underground, UnderCover, Un-Joke | No Comments »

 

MARET
Kaskus Tutup Layanan Porno
Blokir Situs Porno

APRIL
Slank Diprotes DPR 

MEI
Situs Porno Mana yg Ditutup

JUNI
Dari Kamar Karaoke ke Kamar Kost

AGUSTUS
Menjelajah Nasi Jinggo Plus Plus
Mengintip Lokalisasi Padang Galak Sanur

OKTOBER
30 persen Pelaku Prostitusi Adalah Anak dibawah Umur

NOVEMBER
Marak, Video Porno Pelajar

DESEMBER
How To Have Sex In Public

Gadis ML

 

(apatis2008/2009)

apatis2008

View technorati.com

RSS .92|RDF 1.0|RSS 2.0|Atom|Comments RSS 2.0|Valid XHTML