AYO! IKUTAN DAPET DUIT GRATIS DARI KOMISI GRATIS KLIK DISINI




Catatan Harian Seorang Apatis

↑ Grab this Headline Animator

Prostitusi di Sanur Dulu dan Kini

October 19, 2009 | Posted in Underground, UnderCover | No Comments »

Prostitusi di Sanur Dulu dan Kini——-
Berawal dari Diskotek Emperan

Sanur tak hanya dikenal sebagai objek wisata. Sanur juga kental dengan warna prostitusi. Tak hanya kini, dulu ketika pariwisata Sanur mulai bergairah, bisnis esek-esek juga tumbuh subur. Awalnya, dari turis Eropa dan Jepang yang meminta pelayanan lebih. Akibatnya, guide pun kelimpungan dan berburu ‘’barang’’ ke Jawa. Bagaimana ceritanya?
——————

BERCERITA tentang Sanur tentunya tak akan habis dalam hitungan hari. Namun, sebagai sebuah penyusuran, tampaknya pengakuan seorang pelaku pariwisata Ketut Ceteg Rurung yang juga politikus ini, sangat menarik untuk dibagi bersama. Ceteg Rurung yang sempat buka kartu kepada Bali Post memiliki banyak kenangan tentang Sanur.

Menurut pengelola biro perjalanan wisata ini, ribut-ribut soal diskotek di Sanur merupakan lagu lama. Diskotek bagi Sanur sudah merupakan embrio awal kembangkitan Sanur, termasuk prostitusinya. ‘’Sanur itu embrio kepariwisataan di Bali. Kuta malah tumbuh pesat setelah diskotek yang dulunya mangkal di Sanur beralih ke Kuta,’’ jelasnya.

Khusus soal berkembangnya prostitusi di Sanur, katanya, tak bisa dilepaskan dari dua momen. Pertama, kedatangan pelaut asing yang memunculkan sejarah Wisma Bahari. Kedua, menjamurnya diskotek emperan. Diskotek-diskotek emperan yang menjamur tahun 70-an ini justru memberikan imbas yang kuat di kalangan penduduk lokal saat itu untuk mengelola bisnis rumah esek-esek.

Cewek Pesanan

Ceteg menguraikan, tahun 1970-an di Sanur sudah terdapat sejumlah diskotek terkenal. Ia dengan pasih menyebut nama Diskotek Bali Bisto, Gasebo, Number One dan Dogis. Diskotek-diskotek ini diminati wisatawan Jepang yang merupakan pasar utama destinasi wisata Sanur saat itu. Selain itu, sejumlah hotel juga mengelola diskotek. Ia menyebutkan Bali Hyatt saat itu memiliki Diskotek Matahari Super Club. Sementara Inna Grand Bali Beach mengelola Bali Hai Super Club. Diskotek-diskotek ini cukup punya nama dan diminati wisatawan.

Tak hanya hentakan musik yang menghangatkan suasana, sejumlah cewek penghibur yang ada di diskotek justru menjadi pemikat intinya. Transaksi seks antara wisatawan dan wanita-wanita penghibur jamak terjadi. Transaksi ini ternyata memberikan keuntungan multi kepada pelaku pariwisata, termasuk warga lokal, mengingat sistem komisi saat itu sudah biasa. Nominalnya juga relatif besar. Pelakunya, sama saja dengan sekarang. Di dalamnya ada aparat, guide, termasuk tramtib. ‘’Saya tak heran jika sekarang komisi tetap menjadi masalah,’’ ujarnya lagi.

Melihat diskotek-diskotek ini tumbuh pesat dan menjanjikan keuntungan berlipat, katanya, sejumlah pengusaha nakal akhirnya menggunakan emperan rumah dan telajakan yang ada untuk membuat diskotek amatiran. Jumlahnya pun sangat banyak. Mereka tetap saja lolos beroperasi, karena sistem upeti sudah berjalan. Diskotek pinggiran ini di kalangan pelaku pariwisata dikenal dengan diskotek emperan. Celakanya, diskotek ini ternyata lebih diminati wisatawan karena aturannya lebih bebas. Diskotek formal zaman itu, pengunjungnya wajib menggunakan dasi dan berkemeja. Sementara di diskotek emperan selain transaksi lebih murah juga lebih liar. ‘’Transaksi seks di diskotek emperan justru lebih gila,’’ ujarnya.

Kelemahan diskotek emperan, hanyalah pada penyediaan tempat setelah transaksi antara cewek penghibur dan wisatawan. ‘’Hotel saat itu terbatas. Pemandu wisata pun mengalihkan tamunya ke rumah-rumah penduduk,’’ ujarnya. Maka, peran guide dalam berkembangnya prostitusi di Sanur tak bisa ditepis.

Ia pun mengenang satu pengalaman menarik. Suatu ketika jumlah tamu Jepang yang datang ke Sanur membludak. Tentunya persediaan cewek penghibur saat itu juga terbatas. Apa yang harus dilakukan? Saat itu orang-orang yang bekerja di bidang ini akhirnya pergi ke sejumlah tempat di Jawa untuk mencari cewek-cewek part time. Puluhan cewek part time pun didatangkan ke Bali. Mereka diinapkan di sejumlah hotel yang ada di Kota Denpasar.

Proses transaksi seks saat itu pun tetap dimediatori pemandu wisata. Cewek-cewek yang didatangkan khusus ini saat itu dikenal dengan sebutkan eksten. Artinya, setelah dipakai lalu dikembalikan. Tarifnya relatif mahal setara Rp 500 ribu – Rp 1 juta saat ini. Makanya jangan heran, banyak pelaku pariwisata yang kaya dan bisa membawa mobil Holden yang tergolong mobil mewah.

Menggiurkan Warga

Bisnis ini ternyata cukup menggiurkan warga lokal, mengingat sistem komisi sudah berjalan. Akhirnya secara perlahan-lahan, warga Sanur akhirnya terbiasa menyediakan rumah-rumah bedeng untuk disewakan. ‘’Dalam tempo relatif singkat, di Sanur saat itu sudah dengan mudah ditemukan tempat-tempat penyewaan rumah untuk kepentingan prostitusi sesaat,’’ jelasnya. Cewek-cewek yang dulunya sembunyi-sembunyi pun mulai terbuka dan terang-terangan. Mereka tetap aman, sepanjang komisinya adil.

Ketika bisnis makin dikelola profesional dan lumrah, katanya, banyak cewek penghibur akhirnya bersuamikan orang lokal. Bahkan, ia mengaku ada cewek penghibur yang juga menikah dengan pejabat dan insinyur. Selebihnya, kata Ceteg, makin terbukanya transaksi ini membuat banyak cewek penghibur yang hamil namun tanpa jelas siapa yang bertanggung jawab. Anak-anak dari WTS ini ada yang diminta orang dan dipelihara. (dir)

Sumber: Bali Post

Maraknya Bisnis Perawatan Organ Intim Perempuan: Komersialisasi Mitos Seks Peret

May 2, 2009 | Posted in UnderCover | No Comments »

Akhir-akhir ini bisnis perawatan organ intim perempuan marak tersedia, terutama di kota-kota besar. Perawatan khusus atau praktik-praktik yang dilakukan untuk vagina, baik itu perawatan yang dikatakan traditional ataupun modern dengan teknik-teknik mutakhir kedokteraan, tiba-tiba sangat marak tersedia di tempat praktik-praktik traditional, salon-salon kecantikan, spa, bahkan klinik-klinik praktek dokter spesialis. Mengapa perawatan dan praktik-praktik yang dilakukan untuk vagina berkembang cukup pesat dalam beberapa tahun belakangan ini? Apa saja bentuk-bentuk perawatan atau praktik-praktik vagina yang dilakukan oleh perempuan? Baikkah perawatan-perawatan dan praktik-praktik vagina tersebut untuk kesehatan? Adakah konstruksi sosial gender yang mendasari perawatan dan praktik-praktik tersebut? Bagaimana dunia bisnis memanfaatkan konstruksi sosial dalam dunia pervaginaan?

Perawatan atau praktik-praktik organ intim perempuan dalam tulisan ini disebut dengan terminologi praktik-praktik vagina (vaginal practices). Praktik-praktik vagina di Indonesia dapat didefinisikan sebagai segala macam bentuk usaha yang dilakukan oleh perempuan dalam upaya untuk membuat vagina mereka menjadi peret, sempit, kering, dan tidak becek.

Bukti-bukti Penelitian Praktik-praktik Vagina di Beberapa Negara
Penelitian-penelitian tentang praktik-praktik vagina umumnya dilakukan di beberapa negara di Afrika, di mana praktik-praktik ini banyak dilakukan seperti juga halnya dengan female genital mutilation (FGM). Penelitian di Cote d’Ivoire melaporkan bahwa penggunaan bahan-bahan untuk mengeringkan vagina kemungkinan besar dapat menyebabkan meningkatnya insiden penyakit-penyakit kelamin dan infeksi tetapi tidak menyebabkan keadaan flora vagina terganggu (La Ruche et al. 1999). Penelitian yang dilakukan di Zaire melaporkan bahwa penggunaan daun-daunan, bubuk batu-batuan, bahan-bahan kimia seperti bedak, Vicks, alum, dan obat-obatan vagina serta kain yang dimasukkan dalam vagina dapat menimbulkan rasa sakit yang meningkat dan kemungkinan infeksi karena terjadinya gesekan-gesekan pada vagina yang dapat menyebabkan luka (Brown et al. 1993, 1992). Penelitian lain yang dilakukan di Zaire (Irwin et al. 1993, 1991) terhadap penggunaan bedak, ekstrak tumbuhan seperti akar jahe, daun-daunan, kacang cola, dan serbuk peluru menemukan bahwa kemungkinan bahan-bahan tersebut dapat menimbulkan iritasi dan menutupi simtom-simtom sexually transmitted disease (STDs) yang merupakan faktor yang dapat menyebabkan penularan HIV. Di Zambia, Sadala et al. (1995) menemukan bahwa penggunaan bahan-bahan untuk mengeringkan vagina dapat menyebabkan pembengkakan dan terkelupasnya vagina, terutama bila bahan-bahan yang dimasukkan dalam vagina adalah daun-daunan dan kain. Hal terbaru yang ditemukan oleh Van de Wijgert et al. (2000) di Zambia adalah bahwa penggunaaan bahan-bahan untuk mengeringkan vagina dapat meningkatkan kerusakan pada flora vagina. Sedangkan Civic dan Wilson (1998) melaporkan bahwa efek samping yang mungkin timbul adalah terjadinya goresan dan pembengkakan pada vagina.

Dari hasil penelitian di Amerika ditemukan bahwa perempuan Afrika-Amerika lebih banyak yang mempraktekkan seks kering (16%) dibandingkan dengan perempuan kulit putih (6%). Dampaknya perempuan Afrika-Amerika yang mempraktikkan seks kering lebih banyak menderita STDs (Foxman et al., 1998). Penelitian lain yang dilakukan di Amerika mengungkapkan bahwa lebih dari 20 juta perempuan Amerika melakukan douching secara rutin. Sekitar 37% perempuan Amerika yang berusia 15-44 tahun melakukan douching secara teratur. Separuh dari perempuan yang melakukan douching, melakukannya secara teratur seminggu sekali. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan di Amerika, diketahui bahwa perempuan yang secara rutin melakukan douching cenderung mempunyai lebih banyak masalah yang berhubungan dengan kesehatan vaginanya dibandingkan dengan perempuan yang tidak pernah melakukannya atau mereka yang melakukan douching tetapi tidak melakukannya secara rutin. Masalah-masalah yang dapat ditimbulkan karena douching adalah iritasi vagina, infeksi vagina (bacterial vaginais) dan STDs. Perempuan yang sering melakukan douching juga lebih rentan terhadap resiko kena penyakit pelvic inflammatory dan bila penyakit itu tidak diobati dapat menyebabkan kemandulan dan kehamilan ektopic (ectopic pregnancy), infeksi pada bayi, masalah yang berhubungan dengan proses kelahiran dan kelahiran bayi sebelum waktunya (The National Women’s Information Centre 2002).

Dalam website The National Women’s Information Centre, sebuah organisasi yang sangat gencar mempromosikan kesehatan perempuan, dikatakan bahwa secara medis sudah terbukti bahwa vagina mempunyai mekanisme untuk menjaga keseimbangan keadaan kimiawinya yang dapat membersihkan secara alamiah. Oleh karena itu, yang terbaik adalah membiarkan vagina untuk melakukan pembersihan alamiah dengan mengeluarkan sekresi-sekresi lendir. Dengan demikian vagina tidak memerlukan perawatan khusus dengan menggunakan berbagai produk khusus vagina yang diperdagangkan secara komersial. Cara untuk menjaga kebersihan vagina yang disarankan oleh para genekolog dan Food and Drug Administration America adalah dengan menggunakan air hangat dan sabun lembut tanpa pewangi pada waktu akan mandi untuk membersihkan vagina bagian luar. Ahli-ahli kesehatan di Amerika sangat tidak menyarankan dilakukannya douching untuk membersihkan vagina karena dapat mengganggu bahkan merusak keadaan flora vagina yang dapat memungkinkan perempuan lebih rentan terhadap infeksi bakteri dan bahkan dapat menyebabkan penyebaran infeksi yang ada dalam vagina atau cervic masuk lebih dalam ke uterus fallopian tubes dan indung telur (The National Women’s Health Information Centre 2002).

Di Indonesia, penelitian tentang hal ini masih sangat terbatas. Penelitian pertama dilakukan oleh Joesoef dkk. (1996 ) di Surabaya dengan melakukan penelitian dan test pathology pada ibu-ibu hamil. Dalam penelitian tersebut ibu-ibu hamil yang diteliti mencuci vagina mereka dengan air saja, atau air dan sabun, cairan Betadine, dan larutan sirih. Hanya sebagian ibu-ibu yang diteliti telah memasukkan cairan Betadine atau larutan sirih ke dalam vagina. Dalam penelitiannya Joesoef dkk. menemukan bahwa bila melakukan pembersihan vagina dengan bahan-bahan tersebut, kecuali ibu-ibu yang menggunakan air saja, maka kemungkinan terkena STDs akan meningkat bila pembersihan vagina tersebut dilakukan sebelum melakukan hubungan seks. Asumsinya, bahan-bahan yang digunakan untuk cebok dapat memfasilitasi tumbuhnya bakteri pathogen dengan membunuh keadaan flora vagina yang alamiah.

Mulai pada tahun 2000, penelitian-penelitian yang berhubungan dengan seks kering dan praktik-praktik vagina dipelopori oleh seorang peneliti senior dari Australian National University, Prof. Terence Hull. Pada tahun 2002, Prof. Hull mensponsori Esthi Hudiono melakukan penelitian tentang hal ini di Surabaya di kalangan ibu-ibu rumah tangga dan pekerja seks komersial. Pada tahun yang sama juga dilakukan penelitian oleh Agoes Azwar di Sumatera Selatan tentang penggunaan jamu-jamuan yang berhubungan dengan seksualitas pada ibu-ibu, juga bapak-bapak. Berkat Prof. Hull penelitian dalam bidang ini di Indonesia dan Thailand dapat berkembang pesat atas dukungan dana dari Ford Foundation Jakarta melalui Dr. Meiwita Budhiarsana, World Health Organisation dan Australian Research Council.

Dari penelitian-penelitian yang dilakukan di Indonesia ditemukan bahwa mitos tentang vagina yang peret, kering, dan rapat sangat membekas di kalangan masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. Vagina yang peret, kering, dan rapatlah yang dapat memberikan kepuasan seksual pada laki-laki. Mitos-mitos tersebut mulai diperkenalkan pada perempuan pada waktu memasuki persiapan pernikahan. Setelah menikah, kebiasaan-kebiasaan baik minum jamu atau praktik-praktik vagina lainnya mulai lebih banyak lagi dilakukan. Usaha-usaha ini semakin getol dilakukan oleh ibu-ibu, terutama bila mereka menganut aliran kuat bahwa isteri-isteri harus memberikan pengabdian dan pelayanan yang optimal pada suami, takut kalau suami mempunyai hubungan ekstra marital atau mempunyai isteri simpanan, takut kalau kehilangan suami karena kalau suami berpaling pada perempuan lain maka ia akan kehilangan sumber kehidupan. Praktik-praktik vagina juga dilakukan oleh perempuan bila mereka mempunyai masalah keputihan. Suami sering kali mengeluh tentang keadaan vaginannya yang “becek” atau suami sering mengeluhkan keadaan vagina yang mulai “longgar” dan kurang rapat.

Dari penelitian-penelitian yang telah dikemukakan di atas, yang umumnya dilakukan di negara lain, dapat disimpulkan bahwa praktik-praktik vagina dapat membahayakan kesehatan perempuan. Perempuan yang melakukannya dapat lebih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi vagina, STDs, dan HIV/AIDS. Tetapi sangat disayangkan bahwa penelitian-penelitian laboratories tentang praktik-praktik vagina yang dilakukan di Indonesia seperti gurah vagina dan praktik-praktik lainnya serta penggunaan Tongkat Madura belum pernah dilakukan sehingga penulis tidak dapat mengambil kesimpulan tentang bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan perempuan. Namun, dapat ditarik asumsi karena berbagai penelitian medis yang telah dilakukan di negara lain menyatakan bahwa praktik-praktik vagina dapat membahayakan kesehatan perempuan terutama kesehatan reproduksi perempuan. Setidak-tidaknya perempuan Indonesia harus mengetahui kemungkinan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan dari praktik-praktik tersebut. Sayangnya, pemerintah juga tidak berupaya untuk melakukan sosialisasi tentang masalah ini dan membiarkan bisnis perawatan organ intim perempuan menjamur dan berkembang di Indonesia. Selain itu, bila diperhatikan secara seksama banyak jamu-jamu yang dijual, walaupun sudah mencantumkan nomor lengkap izin Departemen Kesehatan (Depkes), sering kali tidak membubuhkan tanggal kadarluasa. Perlu diketahui, bila produk-produk jamu sudah membubuhkan izin Depkes, tidak berarti bahwa jamu tersebut sudah diteliti secara laboratories. Sehingga dampaknya bagi kesehatan pengguna juga belum diketahui secara mendalam. Pembubuhan nomor Depkes hanya berarti bahwa jamu tersebut sudah terdaftar di Depkes.

Berbagai cara perawatan vagina yang dilakukan di Indonesia
Upaya-upaya yang dilakukan oleh perempuan dalam hal ini dapat berupa pencucian vagina (cebok) dengan air, dengan menggunakan larutan daun sirih, dengan berbagai jenis pembersih vagina siap pakai, minum jamu-jamuan, dan memasukkan Tongkat Madura dalam vagina, perawatan kecantikan dan keharuman vagina dengan V-spa dan Kendedes, gurah vagina dan operasi vagina.

Mencuci Vagina dengan Larutan Sirih Ekstrak dan Sabun Khusus Vagina
Perawatan yang paling umum dilakukan oleh perempuan Indonesia adalah cebok. Variasi dari cebok yang hanya menggunakan air saja, juga dilakukan dengan menggunakan air sirih atau dikombinasikan dengan berbagai produk vagina siap pakai yang berupa cairan air sirih dengan berbagai merk, sabun vagina, dan tissue basah yang menggunakan sirih ekstrak. Selain itu, tersedia krim pemutih kulit untuk daerah selangkangan, contohnya Wish whitening cream yang dapat digunakan untuk memutihkan selangkangan hitam (disingkat dengan Selangit).

Minum Jamu-jamuan untuk Membuat Vagina Peret, Sempit, dan Tidak Longar
Ada beberapa jamu yang bertujuan untuk membuat vagina lebih peret. Jamu-jamuan ini sering dikenal dengan sebutan jamu Sari Rapet, Rapet Wangi, Asrirapat, Jamu Empot-empot ayam, dan Tongkat Madura. Juga tersedia jamu-jamuan untuk menyembuhkan keputihan seperti Siputih dan lain-lainnya. Walaupun kita tidak mengetahui berapa banyak perempuan Indonesia yang mengkonsumsi jamu-jamuan ini dan apakah jamu-jamuan ini benar-benar dapat membuat vagina menjadi lebih peret dan kencang, salah satu indikasi bahwa banyak demand untuk jamu-jamuan semacam ini adalah tersedianya berbagai macam merk jamu yang memproduksi jamu-jamu ini. Selain jamu-jamu sari rapet, jamu yang lebih banyak digunakan oleh perempuan adalah jamu kunir asam atau jamu kunir asam yang dicampur dengan air daun sirih.

V-spa (Vagina Spa) dan Kendedes
V-spa adalah serangkaian treatment yang dilakukan perempuan untuk perawatan organ intim. Perawatan organ intim ini dimulai dengan mandi dan olahraga (Kegel), minum ramuan herbal, aroma terapi, total body massage, pengompresan vagina dengan menggunakan kompres herbal hangat yang dimasukkan dalam kantong besar dan diletakkan di daerah atas vagina, dan perawatan ini diakhiri dengan vagina fogging (pengasapan). Pengasapan vagina dilakukan dengan duduk di atas kursi yang tengahnya berlubang dan di bawahnya diletakan anglo tempat areng bakar dan ratus sehingga aroma ratus dapat langsung masuk ke vagina.

Perawatan vagina yang dinamakan Kendedes yang cukup populer saat ini serupa dengan V-spa, tetapi lebih singkat. Klien yang akan melakukan perawatan dipijat, kemudian dilakukan luluran atau body scrub, mandi berendam dengan rempah-rempah, dan terakhir pengasapan vagina seperti halnya vagina fogging. Kedua macam perawatan vagina ini dapat diperoleh di salon-salon kecantikan atau di tempat beauty spa yang sekarang marak terdapat di kota-kota besar.

Teknik-teknik Gurah Vagina
Berbeda dengan cara perawatan yang telah disebutkan di atas—perawatan atau pembersihan vagina hanya dilakukan di bagian luar, kecuali bila menggunakan Tongkat Madura—gurah vagina adalah pengobatan yang dilakukan dengan pembersihan bagian dalam liang vagina. Ada beberapa cara gurah vagina. Pertama, gurah yang dilakukan oleh seorang ‘ahli’ pengobatan tradisional yang dilakukan dengan memasukkan ramuan-ramuan tradisional yang dirahasiakan resepnya ke dalam vagina yang akan dikeluarkan setelah beberapa saat. Sudah selayaknya dalam praktik ini masalah kebersihan dan kesehatan perlu dipertanyakan. Biaya yang dikenakan untuk perawatan ini dapat berkisar antara Rp 250-800 ribu, tergantung dari keadaan sosial ekonomi pengguna jasa tersebut. Kedua, gurah yang dilakukan oleh ahli-ahli kecantikan di salon atau oleh dokter spesialis kandungan atau bidan di tempat praktek mereka. Di salah satu salon di Jakarta misalnya, ditawarkan terapi gurah vagina Tiongkok Kuno dengan biaya Rp 600 ribu rupiah per treatment. Lama perawatan tersebut kira-kira 20 menit. Walaupun pemilik salon tersebut berpraktek di Jakarta, namun ia sering keliling ke Surabaya, Semarang, Pekanbaru, dan Batam untuk memberikan pelayanan kecantikan alternatif dan gurah vagina.

Pembersihan bagian dalam vagina juga dapat dilakukan oleh dokter ahli kandungan atau bidan, tentunya kompetensi ahli-ahli medis ini tidak perlu diragukan. Namun, dewasa ini muncul terapi “Ozonisasi Vagina” yang dilakukan oleh dokter. Prosesnya adalah dengan pembersihan vagina bagian luar dengan menggunakan cairan antiseptik; penyemprotan vagina bagian dalam dengan cairan antiseptik yang dilakukan dengan menggunakan alat penyemprotan khusus sehingga penyemprotan bisa masuk ke dalam liang vagina; kemudian dilakukan penyemprotan dengan menggunakan antibakteri dan antifungus; langkah berikutnya dilakukan penyemprotan deodoran agar vagina berbau harum dan terakhir vagina akan disemprot dengan ozon (uap). Proses penyemproton vagina ini berlangsung sekitar 15 menit (Prodo 2005:89-91).

Operasi Kecantikan Vagina
Operasi kecantikan vagina dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi laser atau operasi. Dalam hal operasi vagina dengan menggunakan teknologi laser dapat dilakukan untuk memperbaiki labia minora dan labia majora yang ukurannya kurang sesuai, merekonstruksi bagian pubis, menggembalikan struktur vulva dan liang senggama yang sudah tidak elastis akibat usia dan melahirkan, dan untuk mengembalikan selaput dara yang rusak. Dapat juga dilakukan operasi selaput dara dan pengencangan vagina (vagina tightening) dengan melakukan operasi “pelvic floor operation” di mana lapisan vagina diperbaiki lapis demi lapis melalui operasi. Operasi yang terakhir banyak dilakukan oleh ibu-ibu yang sudah banyak melahirkan anak.

Mengapa Perempuan Peduli Terhadap Perawatan Vagina: Sebuah Analisa Gender
Adalah sebuah mitos yang sangat kental berlaku di masyarakat, baik di kalangan laki-laki maupun perempuan, bahwa vagina yang terlalu becek, banyak lendir, dan basah atau longgar tidak memberi kenikmatan seks yang optimal pada waktu berhubunagn seks, terutama pada laki-laki. Vagina yang peret, sempit dan tidak longgar menjadi mitos yang sangat kuat berlaku di masyarakat kita. Oleh karena itu, sejak mulai menstruasi anak gadis diperkenalkan oleh ibu-ibu mereka atau saudara-saudara perempuan yang lebih tua cara-cara untuk merawat tubuh dan vagina dengan minum jamu kunir asam dan jamu Galian Putri serta menghindari makan buah-buahan yang dapat membuat vagina becek seperti timun, nanas, semangka, dan pisang Ambon.

Pada tahap selanjutnya, bila gadis-gadis tersebut akan memasuki pernikahan, untuk menyiapkan hari pernikahannya sering kali banyak disarankan, baik oleh perias penganten, teman dekat, atau keluarga perempuan yang lebih tua, agar gadis tersebut melakukan serangkaian perawatan kecantikan dan tubuh yang tersedia di salon kecantikan dan spa. Paket perawatan untuk calon penganten saat ini juga telah berkembang menjadi bisnis yang marak dengan tersedianya beauty spa treatment bagi calon pengantin perempuan dan laki-laki. Paket perawatan calon pengantin ini umumnya juga dilengkapi dengan pijat asmaragama untuk meningkatkan gairah seksual. Dalam serangkaian perawatan pengantin ini juga dilakukan perawatan pada vagina dan penis.

Dalam proses mempersiapkan acara perkawinan dan upaya calon pengantin untuk persiapan memasuki kehidupan baru, informasi tentang pengabdian pada suami, dan servis seksual yang memuaskan pada suami sering kali diberikan. Informasi yang didapat adalah perempuan harus rajin merawat tubuh dan kecantikan dan merawat vaginanya agar tidak mengeluarkan lendir dan bila berhubungan seks dengan suami dapat memberi pelayanan seksual dengan vagina yang peret dan kering. Bila vagina dalam keadaan peret dikatakan bahwa gesekan-gesekan antara vagina dan penis akan optimal sehingga dapat memberikan kepuasan seksual yang maksimal pada laki-laki.

Masa sebelum memasuki malam pertama menjadi kekhawatiran yang sangat bila calon pengantin puteri sudah tidak gadis lagi. Norma yang sangat kuat dianut adalah ketika menikah seorang gadis harus masih perawan, sedangkan apakah calon pengantin pria masih perjaka atau tidak, tidak dipermasalahkan. Untuk mengatasi masalah ini, bagi calon pengantin puteri yang mempunyai uang akan pergi ke klinik spesialis untuk operasi selaput dara, namun bagi calon pengantin puteri yang kurang mampu dapat pergi ke ahli pengobatan alternatif dengan melakukan gurah vagina. Di sinilah letak ketimpangan gender, bila perempuan sudah tidak gadis lagi maka hal ini dapat merupakan masalah dalam memasuki jenjang perkawinan tetapi tidak demikian halnya bila calon pengantin pria sudah tidak perjaka lagi (Bennett 2005; Utomo 2003; Situmorang 2001; Utomo dam McDonald 1997).

Pesan dan nilai tersebut berjalan seiring dengan nilai-nilai patriarkal yang kental berlaku di Indonesia. Isteri harus mengabdi dan melayani suami sepenuhnya dan menjaga kecantikan, keindahan tubuh, dan memberikan servis seksual yang memuaskan agar suami tidak mempunyai perempuan simpanan atau agar suami tidak terus melirik pada perempuan lain karena suami sudah mendapatkan pelayanan yang sangat memuaskan di rumah. Pada masa perkawinan dan masa reproduksi, banyak ibu-ibu muda yang mulai membiasakan diri untuk melakukan perawatan khusus untuk vaginanya. Misalnya, dengan mencuci vaginanya dengan air sirih baik yang dibuat sendiri atau produk siap pakai. Banyak juga ibu-ibu yang kemudian rajin minum jamu-jamuan seperti Sari Rapat, Rapet Wangi, Jamu Empot-empot ayam atau bahkan menggunakan Tongkat Madura untuk membuat vaginanya menjadi kering dan tidak berlendir.

Bila terjadi masalah dalam perkawinan atau bila suami mendadak meninggalkan isteri, maka isteri yang akan mendapat cercaan dari keluarga dan teman-teman. Isteri dianggap tidak pandai mengurus diri dan memberikan servis yang memuaskan sehingga suaminya meninggalkannya. Di sinilah letak ketimpangan gender, perempuanlah yang harus mengabdi pada suami, menservis, dan selalu menjaga agar hubungan perkawinan mereka tetap harmonis. Untuk itu perempuan rela mengorbankan diri dengan meminum jamu atau melakukan berbagai perawatan vagina agar vaginanya bisa menjadi peret dan rapat. Bukankah seharusnya keharmonisan perkawinan dan hubungan seksual harus dijaga dan dipelihara oleh kedua pihak, suami dan isteri? Bukan hanya kewajiban mutlak isteri untuk selalu menjaga keharmonisan rumah tangga serta merawat tubuh dan vaginanya, upaya yang serupa juga seharusnya dilakukan oleh suami karena perkawinan merupakan partnership antara suami dan isteri.

Setelah perempuan selesai dengan masa reproduksinya, biasanya semakin banyak keluhan dari suami karena vaginanya sudah menjadi longgar dan tidak sempit lagi. Tentunya hal ini tidak saja berhubungan dengan telah beberapa kalinya perempuan tersebut melahirkan anak, tetapi juga karena unsur bertambahnya usia yang juga dapat mempengaruhi kelenturan vagina. Pada masa ini ibu-ibu dari kelas sosial ekonomi menengah dan atas mengunjungi klinik-klinik spesialis untuk melakukan operasi vagina atau melakukan laser surgey untuk “memperbaiki” dan mempercantik vagina. Bahkan, ada ibu-ibu dari Indonesia yang terbang ke Singapura untuk melakukan operasi vagina. Lagi-lagi perempuan-perempuan yang menjadi repot dan mengesampingkan efek sampingan yang mungkin timbul dan melakukan operasi vagina demi kepuasan suami serta demi menjaga agar suami tidak menengok ke perempuan lain. Sungguh merupakan ironi bahwa perempuan mau melakukan praktik-praktik vagina tanpa memikirkan efek samping yang mungkin terjadi karena praktik-praktik tersebut. Selain itu, dalam hal ini perempuan sangat berani mengambil resiko terhadap kesehatan tubuhnya demi memuaskan suami dan agar suami tidak mempunyai hubungan seksual di luar rumah.

Bagaimana Dunia Bisnis Memanfaatkan Konstruksi Sosial Gender dalam Dunia Perawatan Vagina?
Mengetahui tentang mitos pengabdian perempuan dan seks kering (dry sex) maka jadilah bisnis yang marak terhadap jasa-jasa perawatan organ intim perempuan dan produksi jamu-jamuan yang berhubungan dengan upaya membuat vagina menjadi lebih rapat, peret, kering, dan tidak longgar. Yang sangat menyedihkan adalah tidak diaturnya pertumbuhan jasa-jasa yang menawarkan dan menjanjikan dapat membuat vagina menjadi peret, rapat, dan wangi, bahkan dapat memulihkan kegadisan seseorang. Penulis tidak khawatir bila praktik-praktik vagina ini dilakukan oleh tenaga medis, tetapi bagaimana dampaknya bila dilakukan oleh orang-orang yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan medis yang akan lebih membawa dampak yang negatif terhadap kesehatan reproduksi perempuan. Pemerintah tidak mempunyai regulasi sama sekali tentang hal ini. Berbagai praktik jasa pervaginaan, baik itu salon kecantikan, praktik traditional, atau klinik kedokteran, semua harus dilengkapi dengan izin dari Depkes dan Kejaksaan Agung. Tetapi dikeluarkannya izin praktek, terutama untuk salon kecantikan dan praktik tradisional, bukan berarti memberi garansi bahwa praktik-praktik pervaginaan yang dilakukan di tempat tersebut dijamin aman bagi kesehatan.

Selama mitos tentang vagina yang rapat, kering, peret, dan tidak longgar terus diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya dan konstruksi sosial gender, baik yang diberikan melalui nilai sosial budaya dan nilai misinterpretasi agama tentang bagaimana seorang perempuan seharusnya mengabdi dan melayani suami, terus dilestarikan maka hal ini akan menjadi sasaran empuk dari kalangan dunia usaha yang tentunya dapat merugikan dan, mungkin, membahayakan kesehatan reproduksi perempuan. Di atas telah dikemukakan bahwa berbagai jenis praktik vagina yang mungkin dilakukan oleh perempuan Indonesia, mulai upaya sederhana dengan mencuci vagina dengan air, air ditambah dengan penggunaan cairan rebusan daun sirih yang dibuat sendiri ataupun yang diproduksi oleh perusahaan, air dengan sabun atau pencuci vagina sampai penggunaan jamu-jamuan dan praktik gurah vagina serta operasi vagina. Selain itu, juga telah dibahas bagaimana konstruksi sosial yang telah disosialisasikan dan diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya bahwa hubungan seksual yang nikmat adalah dengan perempuan yang mempunyai organ intim yang peret, rapat, sempit, dan tidak longgar. Perempuan Indonesia sudah dididik sejak kecil bahwa menjadi perempuan yang baik adalah mengabdikan hidup untuk suami dan anak-anaknya, serta wajib melayani dan memberikan pelayanan pada suaminya termasuk dalam urusan pemuasan kebutuhan seksual suami sehingga banyak perempuan Indonesia yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan uang serta penderitaan yang dapat ditimbulkan untuk membuat vaginanya menjadi peret, kering dan tidak longgar.(*)

Sumber :

Mimpi Buruk Pemilik “Mrs V” Liang Vagina Melebar jika Beranak Banyak

April 17, 2009 | Posted in UnderCover | No Comments »

ADA warning khusus bagi kaum perempuan yang bermimpi kelak melahirkan anak lebih dari empat kali. Liang vagina alias ”Mrs V”-nya secara medis diyakini akan kian melebar. Padahal, kalangan perempuan bersuami umumnya mendambakan ukuran Mrs V yang sempit demi memelihara kepuasan seksual sang suami. Kisah unik justru berembus dari sebuah sudut Kota Denpasar. Seorang ibu bernama Halimah memiliki 20 anak. Keduapuluh buah hatinya ini lahir dari rahimnya secara alami tanpa keluhan berarti.

Sang suami pun tak pernah kehilangan gairah seksual. ”Saya punya cara tersendiri menyenangkan suami di ranjang,” ujar Halimah.

Hubungan suami istri tiga kali sepekan rutin dilakukan Halimah dan suaminya, Mas’ud. “Itu pun atas permintaan suami. Selama itu, Bapak tak pernah mengeluh tidak puas dengan keadaan organ seksual saya yang sudah tidak sempit lagi. Maklum, kami berdua sudah tak muda lagi,” katanya.

Jamu-jamuan menjadi andalannya. Namun, ramuan tradisional tersebut diminum bukan untuk memulihkan kondisi Mrs V-nya agar tetap rapet.

Halimah tak mempraktikkan resep khusus perawatan vagina. Ia bahkan tak mengenal pap smear, gurah maupun operasi vagina (vaginoplasty). Ia punya resep ampuh guna tetap menyalakan hasrat seksual suami. “Yang terpenting menjaga stamina saat berhubungan seks dengan suami,” ujar ibu 10 putra dan 10 putri ini ceplas-ceplos di rumahnya yang berlokasi di Jalan Karangsari Denpasar.

Perempuan kelahiran Pekalongan, 1964, ini memang sudah 20 kali melahirkan anak. Prosesnya berlangsung secara normal alias tanpa operasi caesar. Semua anak lahir dengan berat badan 2,5-3,5 kilogram. ”Sehabis melahirkan tak pakai jahitan segala.

Robekan (dinding vagina) tak pernah ada selama 20 kali melahirkan. Poses melahirkan dibantu dukun beranak,” jelas Halimah dan menambahkan selama hamil jarang memeriksakan kandungannya ke dokter.

Halimah bukan tak mengetahui soal pengaruh ibu banyak anak dengan ukuran liang vagina akibat keseringan melahirkan anak. Ukuran vagina disadarinya akan melebar habis melahirkan janin.

”Tetapi, biasanya lubang vagina yang membesar pascamelahirkan akan kembali seperti semula,” yakin perempuan yang menghidupi semua buah hatinya dari usaha sablon suaminya itu.

Perlendiran
Sementara menurut pakar andrologi dan seksologi Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., FAACS., longgarnya liang vagina dapat diakibatkan proses melahirkan. Jika proses melahirkan terjadi satu dua kali masih dapat mengembalikan ukuran normal liang vagina. Tetapi, jika seorang perempuan mengalami proses persalinan normal lebih dari empat kali otomatis dapat membuat liang vagina melebar.

“Perlu waktu lama untuk bisa kembali seperti semula,“ kata Prof. Wimpie.
Ukuran Mrs V yang melebar dianggap ibarat mimpi buruk bagi pemiliknya. Itu berkaitan dengan kepuasan seksual pasangan hidupnya. Padahal, menurut Prof. Wimpie, kepuasan seksual sangat berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga.

Kepala Bagian Andrologi dan Seksologi FK Unud itu menekankan pentingnya komunikasi timbal balik pasutri guna membangun ikatan emosional dan fungsi seksual secara sehat.

Komunikasi tersebut dibutuhkan untuk saling mengenali fungsi seksual masing-masing. Perempuan normal dan sehat yang terangsang akan mengalami perlendiran di vagina. Jika tidak mengalami perlendiran, berarti tidak normal. “Perempuan dapat melakukan kontraksi otot di seputar vagina. Jika vagina kering saat melakukan hubungan seksual jelas akan terasa sakit saat bergesekan dengan batang penis,” kata Prof. Wimpie.

Kepuasan seksual kedua pihak bisa dicapai jika kualitas ereksi penis bagus dan bisa mengontrol ejakulasi. “Namun, ada hal penting yang juga sebaiknya diperhatikan, yaitu keterlibatan secara emosional kedua belah pihak,” ujarnya.

Ketua Program Studi Magister Kedokteran Reproduksi dan Anti-Anging Medicine Unud ini mengatakan, kepuasan seksual sangat dipengaruhi kesehatan seluruh tubuh. “Jika tubuh sehat otomatis seks bagus. Laki-laki atau perempuan yang menderita kencing manis, atau penyakit lain biasanya fungsi seksualnya terganggu,” jelasnya.

Begitu juga perokok berat. Walau merasa sehat, ereksi akan terganggu sampai 67%. Pada wanita, bisa mempengaruhi perlendiran vagina, gangguan kesuburan, dan gangguan yang dialami janin.

Fungsi seksual tidak berdiri sendiri. Itu tidak cukup hanya dilakukan hanya dengan cara rajin membersihkan vagina. Gangguan seksual tidak sekadar berakibat gagal mencapai kepuasan dalam melakukan hubungan suami istri. Ada juga gangguan seksual pada wanita yang disebut vaginismus, terjadi pengejangan otot vagina. Tap kali akan berhubungan seksual, vagina tertutup terus.

Gangguan seksual semacam itu diakui Prof. Wimpie pernah dialami salah seorang pasiennya. Pasien ini telah 8 tahun menikah. “Setelah ditangani beberapa bulan hubungan seksual berjalan normal lagi,“ katanya. —lik,ten

Kenali Titik Erotik
Pasangan Hidup

TIAP pasangan hidup dianjurkan mengenali titik erotik masing-masing. Ini berguna untuk menjaga kualitas hubungan seksual.

Menurut guru besar Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran dan Pascasarjana (Olah Raga/Fisiologi Latihan, Fisioterapi, Kedokteran Anti Penuaan, Kedokteran Reproduksi, Ergonomi) Unud Prof. Dr. dr. J. Alex Pangkahila, M.Sc, Sp. And., kualitas seksual dipengaruhi beberapa faktor, yakni fisik, psikis, proses belajar, dan lingkungan.

Faktor fisik sangat dipengaruhi pola hidup, makan, tidur, olahraga, bekerja. “Pola-pola yang mempengaruhi kesehatan dan kebugaran seksual ini bisa diatur dengan pelatihan,“ katanya.

Masalah seksual bisa dipelajari secara ilmiah. “Perlu ada pelatihan seksual, mulai dari pelatihan komunikasi seksual, pelatihan kebugaran seksual, dan pelatihan seksual,” ungkapnya.

Keberhasilan hubungan seksual, 80-90% terjadi jika dimulai dengan komunikasi seksual. “Pada fase komunikasi seksual ini, jangan bicarakan pertentangan. Bicarakan yang indah, menyenangkan, merangsang, atau sambil menonton film,“ katanya.

Saat memasuki fase rangsangan, lakukan perabaan dan pemijatan di bagian sensitif di tubuh pasangan. “Pada fase ini sebaiknya kedua pihak mengetahui titik erotik masing-masing,“ lanjutnya.
Titik erotik kaum perempuan berada di bagian bahu, lengan tangan bagian bawah sampai ketiak, bagian dalam siku tangan, punggung telapak tangan, bagian bawah mata sampai pipi, bagian belakang telinga, pinggang, perut, payudara, paha, kemaluan, serta bagian belakang lutut. Titik erotik laki-laki terletak pada bahu, lengan tangan bagian bawah sampai ketiak, siku tangan, telapak tangan, telapak kaki, payudara, paha, kemaluan, dan bagian belakang lutut.

“Sentuhan pada titik-titik erotis ini akan mampu membangkitkan gairah pasangan, yang selanjutnya mencapai fase orgasme,“ jelasnya.

Fungsi Plus
Pencapaian kepuasan seksual dapat juga dibantu melalui kegiatan senam kebugaran seksual (SKS). Pelatihan dilakukan 12 minggu, dilakukan tiga kali dalam seminggu masing-masing satu jam. Dimulai dengan pelatihan fisik secara umum/erobik, kemudian dikhususkan melatih otot dasar panggul, dan melatih otot penunjang yakni perut, pantat, paha, pinggul, vagina, atau penis.

SKS menurut Prof. Alex mampu memampetkan kembali vagina yang longgar. “Jika senam ini dilakukan secara rutin, vagina akan mampu menjepit sekuat-kuatnya, menarik sekencang-kencangnya, dan menahan jepitan selama-lamanya,” ujarnya. —ten

Kenikmatan Seksual Dalam Lontar

TREN perawatan vagina yang kini digandrungi kaum hawa ternyata sudah dilakukan kaum perempuan zaman dulu untuk menjaga keutuhan rumah tangganya. Bahkan, dalam Lontar Hindu ada penjelasan seputar rahasia kenikmatan seksual.

Menurut Wayan Budi Utama, Asdir III Program Magister Ilmu Budaya dan Kebudayaan Unhi Denpasar, dalam Lontar Smara Tantra, kecantikan wajah digambarkan tidak akan ada artinya jika tubuh perempuan itu tidak molek dan indah. Keindahan tubuh juga tidak ada artinya jika perempuan tidak merawat organ kewanitaannya dengan baik dan mampu memuaskan suaminya di ranjang.

“Ketiga hal itu juga tidak berarti jika perempuan tidak mempunyai kepribadian yang baik,” ujarnya.

Jadi dalam lontar sudah disebutkan seorang perempuan harus merawat organ kewanitaannya dengan baik untuk menjaga keharmonisan keluarganya.

Perawatan vagina, menurut Budi Utama, salah satu resep yang dilakukan kaum perempuan menjaga keutuhan rumah tangganya. Gurah vagina yang banyak dilakukan perempuan masa kini sebenarnya sudah dilakoni sejak zaman nenek moyang dulu. Operasi vagina untuk kesehatan maupun kosmetika dinilai sebagai akibat kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran.

Dalam lontar disebutkan, untuk membuat otot vagina lebih kencang dapat dilakukan dengan yoga, khususnya teknik vajroli mudra. “Duduk bersila, badan tegak, dagu ditarik ke depan dan menempel di dada, tarik napas, lakukan seperti menahan kencing. Tahan napas sekitar 20 detik, kemudian embuskan. Lakukan gerakan ini secara bertahap kira-kira 6-10 kali dalam tiap gerakan. Hal ini bisa dilakukan pada pagi, siang atau malam hari, di mana pun,” papar Budi Utama.

Fungsi yoga, menurutnya, dimaksudkan guna menguatkan tulang panggul dan daya kontraksi otot vagina saat melakukan hubungan seksual. ”Termasuk mengencangkan otot perut,” tambahnya.

Ia mengutip sebuah ilustrasi dalam lontar Indrani Rukmini Tatwa. Di sini, Dewa Rukmini dikisahkan bertanya kepada istri Dewa Indra mengenai apa rahasianya agar Dewa Indra tetap setia dan tidak menyeleweng. Padahal, ia dikelilingi para bidadari cantik.

Istri Dewi Indra memberikan resep kepada Dewi Rukmini mengenai letak daerah–daerah erotis (G-spot). Menurut lontar tersebut, kata Budi Utama, kenikmatan seksual dapat dirasakan bukan hanya lewat hubungan kelamin, tetapi dapat juga melalui lidah, bibir, dan jari tangan.

Selain itu, ada ramuan untuk menjaga vitalitas seksual. Untuk laki-laki memakan buah keem, sedangkan perempuan meminum jamu kunir. “Termasuk menggunakan buah pinang dan daun sirih untuk cebok agar vagina harum dan tidak keputihan,” kutip Budi dari lontar tersebut.

Teknik pengasapan atau biasa dikenal dengan ratus vagina juga dijelaskan dalam lontar itu. Pengasapan menggunakan tungku kecil yang ditambah aromaterapi membuat vagina menjadi bersih dan harum.
”Itu berarti, ajaran Hindu tidak menampik adanya hal-hal yang terkaitan dengan seksualitas sepanjang dikelola dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Biasanya zaman dulu, sebelum upacara pernikahan, ada ritual yang harus dilakukan calon pengantin yakni para gadis melakukan ratus vagina, dan jejaka minum jamu akar pandan ditambah merica, madu dan buah keem. Fungsinya agar pengantin baru dapat melakukan kewajibannya sebagai suami istri dengan baik.

Dalam Lontar Rahasya Sanggama ditegaskan, kebahagiaan rumah tangga akan terjadi ketika perempuan bertindak seperti pelacur profesional dalam melayani suaminya di ranjang. Sementara laki-laki berlaku seperti gigolo guna memuaskan istrinya di ranjang.

Seksualitas sering berkaitan dengan budaya, seperti budaya patriaki di Bali. Laki-laki sering egois sehingga tidak mencapai kepuasan bersama. —ast

Rekonstruksi Vagina
untuk Kosmetika dan Medis

MENJAGA kecantikan dan keindahan tubuh serta organ kewanitaan kian menjadi kebutuhan wanita masa kini. Berbagai cara tradisional hingga modern dilakukan guna memperoleh hasil yang maksimal. Mulai dari mengonsumsi jamu tradisional, mencuci vagina dengan rebusan daun sirih, gurah vagina, penggunaan parfum, dan bedak di daerah vagina hingga operasi vagina.

Berbagai macam usaha tersebut ternyata membawa pengaruh buruk bagi kondisi tubuh, bahkan bisa menyebabkan kanker ovarium jika digunakan dalam jangka waktu lama atau terus-menerus.

Menurut dokter spesialis kebidanan di RSUP Sanglah Denpasar dr. I Nyoman Hariyasa Sanjaya, Sp.O.G., cara itu dapat menimbulkan kemandulan dan cacat fisik bagi janin yang dikandungnya.

Menurut Hariyasa, vagina memiliki flora normal yang secara alamiah mampu menjaga dan melindungi vagina dari bahaya kuman dan virus yang berbahaya. Penggunaan zat antiseptik guna membersihkan vagina malah akan membuat flora normal di daerah vagina terganggu.

“Bakteri yang seharusnya bisa memberikan perlindungan, mati akibat zat anti-septik. Flora vagina yang berubah membuat virus dan kuman penyakit bersarang dalam vagina,” ujar pria kelahiran Singaraja, 9 Juni 1968 ini.

Gurah vagina sebagai salah satu langkah membersihkan areal di daerah vagina makin diminati kaum hawa. Padahal, jika dilakukan terus-menerus, gurah vagina menyebabkan infeksi karena mematikan bakteri yang berfungsi melindungi vagina. “Gurah vagina dilakukan jika ada indikasi penyakit pada vagina.

Indikasi hanya diketahui dokter spesialis yang menangani,” kata alumnus program pendidikan dokter spesialis Obstetri & Ginekologi, Fakultas Kedokteran, Unud ini. Tak hanya gurah vagina, penggunaan parfum dan bedak di areal seputaran vagina, diakuinya, mampu menjadi pemicu timbulnya kanker ovarium. “Parfum mengandung zat kimia yang membuat alergi dan radang di daerah vagina,” ujar suami Diah Susilawati Hariyasa ini.

Menurut Hariyasa, bedak tabur yang digunakan di areal vagina dapat masuk ke dalam vagina hingga ke rahim dan mengenai indung telur. Bedak tabur mengandung zat-zat tertentu, salah satunya yang tergolong dalam zat karsinogenic yakni zat pemicu kanker.

“Jika hal itu terus dilakukan, akan menyebabkan kanker ovarium. Jika ovarium rusak, bukankah harapan memiliki keturunan sangat kecil karena ovarium tak mampu menghasilkan telur,” jelasnya.

Tak hanya pembersihan organ kewanitaan, mengonsumsi obat-obatan dan jamu juga menjadi alternatif kaum hawa menjaga penampilan fisik maupun daerah kewanitaan. Dokter Hariyasa menjelaskan, tak sembarang obat bisa diperjualbelikan secara bebas. Menurutnya, uji kliniks di laboratorium yang menggunakan bahan uji coba berupa binatang harus dipenuhi sebelum obat dijual di pasaran.

Jika uji coba menunjukkan hasil yang baik, menurut pria yang pernah bergabung di Occupational Training di Adelaide Womens and Childrens Hospital South Australia ini, obat tersebut aman dikonsumsi. Sebaliknya, jika tak memenuhi uji kliniks, tak dapat diketahui tingkat bahaya yang ditimbulkan obat-obatan tersebut.

Menggunakan produk atau jamu pelangsing yang dipercaya mempercantik organ kewanitaan ia khawatirkan mampu menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan. Tak sedikit jamu dan obat-obatan tak memenuhi uji kliniks.

“Pada jamu atau obat yang mengandung hormon corticosteroid misalnya prednisone dan doping, jika dikonsumsi dapat menyebabkan kerusakan organ seperti hati, ginjal, kerapuhan tulang dan gangguan sel-sel darah,” tambahnya. Bahkan, menurutnya, jika dikonsumsi secara terus-menerus, jamu dan obat mampu berdampak terjadi kemandulan.

Hariyasa menambahkan, bagi wanita hamil, mengonsumsi jamu-jamu tradisonal yang dipercaya mampu meningkatkan gairah seksualitas dan membuat keadaan vagina kering serta tidak lembek malah akan membahayakan kondisi janin. “Jamu dan obat-obatan dapat mengganggu proses pembentukan organ dalam kandungan, yang menyebabkan bayi lahir cacat.

Makanya pada tri semester pertama, wanita hamil dilarang mengonsumsi segala jenis obat-obatan,” katanya.

Operasi vagina pun berdampak negatif jika tak dilakukan dokter yang profesional dan kompeten di bidangnya, karena pascaoperasi bisa menyebabkan munculnya jaringan parut (Scar), keloit atau tumbuh daging sehingga membuat nyeri saat berhubungan seksual dan mempengaruhi proses melahirkan karena vagina menjadi kaku.

Tak hanya itu, jika saraf-saraf di vagina banyak terpotong akan membuat saraf sensorik atau kepekaan terhadap daya rangsang akan berkurang sehingga kualitas hubungan seksual berkurang. “Operasi Vagina harus ditangani dokter yang ahli dan profesional. Operasi vagina yang baik tak akan berdampak buruk,” sarannya.

Di tempat terpisah, dr.Kesumadana, Sp.OG mengatakan, rekonstruksi atau operasi vagina memiliki berbagai macam indikasi di antaranya indikasi medis, kosmetik dan sosial.

Biasanya, lanjut Kesumadana, ada tiga indikasi mengapa wanita melakukan rekonstruksi vagina. Secara medis, rekonstruksi vagina dilakukan karena lubang vagina telalu lebar hingga ke daerah pantat, menyebabkan kuman-kuman yang ada di daerah pembuangan kotoran masuk ke areal vagina. Indikasi kosmetik, menurut dokter yang praktik di RS Kasih Ibu ini, karena mempercantik vagina agartidak memble.

“Sedangkan indikasi sosial karena faktor pemuas gairah seksual sang suami,” ujarnya.
Kesumadana menyarankan, agar tak terjadi vaginismus yakni kesakitan saat berhubungan seks akibat vagina yang terlalu sempit, sebaiknya rekonstruksi vagina dilakukan dokter yang profesional. “Jika dilakukan dengan baik, operasi vagina tak menimbulkan gangguan di organ lain,” katanya. —lik
 

Sumber :http://www.cybertokoh.com

apatis2008

View technorati.com

RSS .92|RDF 1.0|RSS 2.0|Atom|Comments RSS 2.0|Valid XHTML