AYO! IKUTAN DAPET DUIT GRATIS DARI KOMISI GRATIS KLIK DISINI




Catatan Harian Seorang Apatis

↑ Grab this Headline Animator

Merawat Organ Kewanitaan

February 21, 2009 | Posted in Uncut, UnderCover | Comments (1)

Tinggal di daerah tropis yang panas membuat kita sering berkeringat. Keringat ini membuat tubuh kita lembab, terutama pada organ seksual dan reproduksi yang tertutup dan berlipat.

Akibatnya bakteri mudah berkembang biak dan eksosistem di vagina terganggu sehingga menimbulkan bau tak sedap serta infeksi. Untuk itulah kita perlu menjaga keseimbangan ekosistem vagina.

Ekosistem vagiana adalah lingkaran kehidupan yang ada di vagina. Ekosistem ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu estrogen dan laktobasilus (bakteri baik). Jika keseimbangan ini terganggu, bakteri laktobasilus akan mati dan bakteri pathogen akan tumbuh sehingga tubuh akan rentan terhadap infeksi.

Sebenarnya di dalam vagina terdapat bakteri, 95 persennya adalah bakteri yang baik sedang sisanya bakteri pathogen. Agar ekosistem seimbang, dibutuhkan tingkat keasaman (pH balance) pada kisaran 3,8 – 4,2. Dengan tingkat keasaman tersebut, laktobasilus akan subur dan bakteri pathogen mati.

Banyak faktor yang menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem vagina, antara lain kontrasepsi oral, diabetes melitus, pemakaian antibiotik, darah haid, cairan mani, penyemprotan cairan ke dalam vagina (douching) dan gangguan hormon (pubertas, menopause atau kehamilan).

Dalam keadaan normal vagina mempunyai bau yang khas. Tetapi, bila ada infeksi atau keputihan yang tidak normal dapat menimbulkan bau yang mengganggu, seperti bau yang tidak sedap, menyengat, dan amis yang disebabkan jamur, bakteri atau kuman lainnya.  Jika infeksi yang terjadi di vagina ini dibiarkan, bisa masuk sampai ke dalam rahim.

Alaminya susu

Untuk menjaga kebersihan dan mematikan bakteri jahat di dalam vagina memang tersedia produk pembersih daerah intim wanita. Dari sekian banyak merek yang beredar rata-rata memiliki tiga bahan dasar.

Pertama, yang berasal dari ekstrak daun sirih (piper betle L) yang sangat efektif sebagai antiseptik,  membasmi jamur Candida Albicans dan mengurangi sekresi cairan pada vagina. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Amir Syarif dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, penggunaan daun sirih pada pengobatan keputihan, 90,0 persen pasien dinyatakan sembuh.

Sayangnya, jika pembersih berbahan daun sirih ini digunakan dalam waktu lama, semua bakteri di vagina ikut mati, termasuk bakteri laktobasilus. Sehingga keseimbangan eksosistem menjadi terganggu.

Kedua, produk-produk pembersih kewanitaan yang mengandung bahan Povidone lodine. Bahan ini merupakan anti infeksi untuk terapi jamur dan berbagai bakteri. Efek samping produk yang mengandung bahan ini adalah dermatitis kontak sampai reaksi alergi yang berat.

Ketiga, produk yang merupakan kombinasi laktoserum dan asam laktat. Laktoserum ini berasal dari hasil fermentasi susu sapi dan mengandung senyawa laktat, laktose serta nutrisi yang diperlukan untuk ekosistem vagina. Sedangkan asam laktat berfungsi untuk menjaga tingkat pH di vagina.

Menurut dr. Junita Indarti, SpOG, dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan dari RSCM, susu mengandung zat aktif yang bisa diekstrak menjadi asam laktat dan laktoserum, dan secara klinis terbukti mengurangi keluhan rasa gatal, rasa terbakar dan keputihan pada vagina.

"Sebanyak 70 persen pasien yang datang berobat, keluhannya hanya seputar keputihan. Setelah pasien dirawat dengan pemberian larutan asam laktat dan laktoserum dua kali sehari selama dua minggu, tingkat kesembuhannya mencapai 80 persen, hanya 5,4 persen yang mengalami efek samping berupa ruam kulit" katanya menjelaskan.

Kombinasi asam laktat dan laktoserum sebagai pembersih organ kewanitaan bersifat alami karena tidak membunuh bakteri laktobasilus melainkan meningkatkan pertumbuhannya. Salah satu produk yang pembersih wanita yang mengandung bahan ini adalah Lactacyd, yang saat ini sudah bisa dibeli di outlet toko obat.

Sebelum memutuskan memilih suatu produk, menurut Junita ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan, antara lain apa saja keluhan yang dirasakan saat ini dan sebisa mungkin memilih produk yang isinya mengandung zat-zat yang baik.

"Untuk pemakaian jangka panjang sebaiknya memilih produk yang bisa memelihara ekosistem alami vagina. Produk yang mengandung pembunuh bakteri sebaiknya hanya digunakan untuk jangka pendek atau ketika ada masalah saja," tambah Junita.

Kebisaan menjaga kebersihan, termasuk kebersihan organ-organ seksual atau reproduksi, merupakan awal dari usaha menjaga kesehatan kita. Jika ekosistem vagina terjaga seimbang, otomatis kita akan merasa lebih bersih dan segar dan tentu saja lebih nyaman melakukan aktivitas sehari-hari. *

sumber: Kompas Cyber Media

Remaja dan Aspek Psikososial

| Posted in Uncut, UnderCover | No Comments »

Banyak yang bilang masa remaja adalah masa yang paling indah (duh… seperti di dalam lagi ya) karena di masa remaja banyak perubahan yang kita alami, mulai dari perubahan fisik sampai psikologi. Dan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk masyarakat.

Segala macam aspek hubungan sosial dengan kawan, orangtua, ataupun guru bisa disebut dengan aspek psikososial.

Masa remaja yang kita alami ini merupakan suatu periode dalam rentang kehidupan manusia, mau atau tidak mau pasti kita mengalaminya. Pada masa ini, berlangsung proses-proses perubahan secara biologis juga perubahan psikologis yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk oleh masyarakat, teman sebaya, dan juga media massa. Kita yang berada di masa remaja ini juga belajar meninggalkan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan pada saat yang bersamaan kita mempelajari perubahan pola perilaku dan sikap baru orang dewasa. Selain itu, kita yang remaja ini juga dihadapkan pada tuntutan yang terkadang bertentangan, baik dari orangtua, guru, teman sebaya, maupun masyarakat di sekitar. Kita bisa-bisa menjadi bingung karena masing-masing memberikan tuntutan yang berbeda-beda tergantung pada nilai, norma, atau standar yang digunakan.

Intinya aspek psikososial bisa didefinisikan sebagai aspek yang ada hubungannya dengan kejiwaan kita dan sosial. Kejiwaan tentu saja berasal dari dalam diri kita, sedangkan aspek sosial berasal dari luar (eksternal). Kedua aspek ini sangat berpengaruh kala masa pertumbuhan kita.

Kadang yang lebih berpengaruh justru bukan aspek kejiwaan, melainkan aspek eksternal. Misalnya, media massa membangun imej remaja putri yang oke adalah yang berkulit putih, bertubuh langsing, dan berpayudara besar. Demi mengejar body image seperti itu, banyak yang termakan dan berusaha menjadi imej seperti yang dikatakan di media massa.

Sudah saatnya perubahan diri terjadi bukan dari luar, melainkan dari dalam diri kita sendiri karena seharusnya aspek psikososial berlangsung secara seimbang. Pengaruh dari luar harusnya mampu mengubah kita menjadi manusia yang lebih baik. Dengan kondisi ini, diharapkan interaksi aspek psikologi dan sosial dapat menjadi positif, yang pada akhirnya dapat berdampak positif pada pembentukan identitas diri kita.

YAHYA MA’SHUM PKBI Pusat


Sumber: Kompas, Jumat, 17 November 200

Satu Jam Bersama Ayam Kampus

January 27, 2009 | Posted in Uncut, Underground | No Comments »

Berkat informasi yang kami peroleh dari seorang petugas keamanan kampus, akhirnya tim kami berhasil mewawancarai paksa seorang mahasiswi yang selama ini kami cari. Ayam kampus, begitulah makhluk yang satu ini biasa disebut. Selain menjadi mahasiswi, cewek berparas cantik dan seksi ini kadang bekerja sebagai SPG salah satu produk rokok, SPG Freelance produk kecantikan, dan aktivis MLM kosmetik.

Saat wawancara (02/07), masih tercatat sebagai mahasiswi sebuah universitas di Denpasar, Fakultas Cateris Paribus jurusan Atur Mengatur. Atas permintaan narasumber, wawancara dilakukan di sebuah kafe di Jalan Diponegoro, Denpasar, yang konon sering dipakai janjian pasangan-pasangan selingkuh.

Setelah basa basi sejenak, berikut sedikit petikan wawancaranya yang dengan beberapa editan (off the record)

“Oke, jadi gimana nih awalnya sampai kamu bisa jadi seperti ini, bisa sedikit diceritain?”

“Awalnya..hmmm..”

 “Ya, misalnya kamu punya masalah apa atau gimana?”

“Oh, ya, awalnya emang gara-gara diputusin pacarku. Aku stress banget.”

“Kapan itu?

“Pas awal-awal kuliah”

“Trus?”

“Ya, gitu, aku udah pacaran lama. Dari kelas satu SMA, dan hubungan kita udah jauh”

“Hmm…”

“Akhir semester satu kita putus. Aku baru tau dia udah punya cewek lain selama satu tahun sejak dia kuliah disini”

“Trus sampai akhirnya jadi gini gimana?

“Ya, itu tadi, udah janji-janji segala macem..aku dah sayang banget sama cowokku sampai-sampai aku ikut kuliah disini gara-gara dia”

“Kapan pertama kali, maaf, kamu  komersilin?”

“Pas lagi stres-stresnya, aku kenal kakak kelasku ikut-ikut ngumpul segala macem. Awalnya aku gak tau kalo dia, kakak kelasku itu, kerjanya nyambi seperti ini. Daripada stress, aku ikut-ikutan ke kafe-kafe gitu cari kenalan”

“Berapa lama sampai kamu kenal bayaran?”

“Oh iya, awalnya emang Sex for Fun aja. SMS, Satu Malam Saja. Kalo kita suka ya bisa”

“Waktu itu belum terima bayaran gitu ya?”

“Ya, kurang lebih gitu”

“Kuliah kamu gimana?”

"Kuliah jadi macet, kacau. Tiap hari diajakin mabuk..dan mungkin karena udah Biasa nge-sex, jadi sehari gak gituan jadi bingung.”

“Trus?”

“Masturbasi aja gak cukup. Nunggu ke kafe kan lama, paling seminggu sekali. Suatu hari ada temen ngajakin keluar, ada yang ngajak kenalan, om-om. Dari situ awalnya aku terima bayaran. Aku gak minta, tapi om itu nitipin uang ke temenku.”

“Akhirnya bisa bener-bener komersil gimana?”

“Hmmm, Om itu sering telfon aku ngajak kencan, lumayan sebulan bisa buat bayar kuliah, bisa beli macem-macem. Tapi cuma sebulan, trus dia pindah ke Kalimantan kalo gak salah, aku jadi gak ada pelampiasan. Sejak itu aku terima order lewat telfon.”

“Cuma telfon aja ya?”

“Ya, cuma lewat telfon aja. Tapi kalo sms gak pernah aku bales.”

“Berapa biasanya sekali call?”

“Rate-nya maksudnya?”

“Ya, itu mungkin”

“Tergantung, short time kadang 200 sampai 300 ribu, long time pernah dikasi 1,5 juta”

“Untuk tempatnya dimana?”

“Yah, tergantung janjiannya, disini kan banyak hotel-hotel atau pondok wisata gitu.”

“Boleh tahu lokasinya di daerah mana?”

“Paling sering aku di daerah renon di jalan … (maaf nama jalan sengaja tidak kami sebutkan karena pertimbangan tertentu), kadang juga di daerah sekitar Gatsu Barat.”

“Ok, untuk pelanggan biasanya siapa aja?”

“Pada dasarnya siapa aja yang mau bayar sesuai rate ya aku service.”

“Berarti semua kalangan nih? He he..”

 “Yang penting duitnya.”

“Gak takut penyakit?”

“Takut ada, tapi aku udah punya langganan dokter kulit. Jadi ya, rutin lah aku check up”

“Ok deh, makasi waktunya ya, lain kali kita bisa ngobrol-ngobrol lagi khan?”

“Gak ah, sama temenku yang lain aja”

“Yang mana?”

“Itu yang aku tunjukin kemarin di pantai, yang tattonya dipungung bawah (maksudnya, sedikit diatas bokong).”

“Sip dah..”

**

Setelah basa-basi sejenak, akhirnya wawancara selesai sekitar pukul sembilan malam.

 

(Tim Apatis 2008 : An, Hr, Ar)

apatis2008

View technorati.com

RSS .92|RDF 1.0|RSS 2.0|Atom|Comments RSS 2.0|Valid XHTML