AYO! IKUTAN DAPET DUIT GRATIS DARI KOMISI GRATIS KLIK DISINI




Catatan Harian Seorang Apatis

↑ Grab this Headline Animator

Satu Jam Bersama Ayam Kampus

January 27, 2009 | Posted in Uncut, Underground | No Comments »

Berkat informasi yang kami peroleh dari seorang petugas keamanan kampus, akhirnya tim kami berhasil mewawancarai paksa seorang mahasiswi yang selama ini kami cari. Ayam kampus, begitulah makhluk yang satu ini biasa disebut. Selain menjadi mahasiswi, cewek berparas cantik dan seksi ini kadang bekerja sebagai SPG salah satu produk rokok, SPG Freelance produk kecantikan, dan aktivis MLM kosmetik.

Saat wawancara (02/07), masih tercatat sebagai mahasiswi sebuah universitas di Denpasar, Fakultas Cateris Paribus jurusan Atur Mengatur. Atas permintaan narasumber, wawancara dilakukan di sebuah kafe di Jalan Diponegoro, Denpasar, yang konon sering dipakai janjian pasangan-pasangan selingkuh.

Setelah basa basi sejenak, berikut sedikit petikan wawancaranya yang dengan beberapa editan (off the record)

“Oke, jadi gimana nih awalnya sampai kamu bisa jadi seperti ini, bisa sedikit diceritain?”

“Awalnya..hmmm..”

 “Ya, misalnya kamu punya masalah apa atau gimana?”

“Oh, ya, awalnya emang gara-gara diputusin pacarku. Aku stress banget.”

“Kapan itu?

“Pas awal-awal kuliah”

“Trus?”

“Ya, gitu, aku udah pacaran lama. Dari kelas satu SMA, dan hubungan kita udah jauh”

“Hmm…”

“Akhir semester satu kita putus. Aku baru tau dia udah punya cewek lain selama satu tahun sejak dia kuliah disini”

“Trus sampai akhirnya jadi gini gimana?

“Ya, itu tadi, udah janji-janji segala macem..aku dah sayang banget sama cowokku sampai-sampai aku ikut kuliah disini gara-gara dia”

“Kapan pertama kali, maaf, kamu  komersilin?”

“Pas lagi stres-stresnya, aku kenal kakak kelasku ikut-ikut ngumpul segala macem. Awalnya aku gak tau kalo dia, kakak kelasku itu, kerjanya nyambi seperti ini. Daripada stress, aku ikut-ikutan ke kafe-kafe gitu cari kenalan”

“Berapa lama sampai kamu kenal bayaran?”

“Oh iya, awalnya emang Sex for Fun aja. SMS, Satu Malam Saja. Kalo kita suka ya bisa”

“Waktu itu belum terima bayaran gitu ya?”

“Ya, kurang lebih gitu”

“Kuliah kamu gimana?”

"Kuliah jadi macet, kacau. Tiap hari diajakin mabuk..dan mungkin karena udah Biasa nge-sex, jadi sehari gak gituan jadi bingung.”

“Trus?”

“Masturbasi aja gak cukup. Nunggu ke kafe kan lama, paling seminggu sekali. Suatu hari ada temen ngajakin keluar, ada yang ngajak kenalan, om-om. Dari situ awalnya aku terima bayaran. Aku gak minta, tapi om itu nitipin uang ke temenku.”

“Akhirnya bisa bener-bener komersil gimana?”

“Hmmm, Om itu sering telfon aku ngajak kencan, lumayan sebulan bisa buat bayar kuliah, bisa beli macem-macem. Tapi cuma sebulan, trus dia pindah ke Kalimantan kalo gak salah, aku jadi gak ada pelampiasan. Sejak itu aku terima order lewat telfon.”

“Cuma telfon aja ya?”

“Ya, cuma lewat telfon aja. Tapi kalo sms gak pernah aku bales.”

“Berapa biasanya sekali call?”

“Rate-nya maksudnya?”

“Ya, itu mungkin”

“Tergantung, short time kadang 200 sampai 300 ribu, long time pernah dikasi 1,5 juta”

“Untuk tempatnya dimana?”

“Yah, tergantung janjiannya, disini kan banyak hotel-hotel atau pondok wisata gitu.”

“Boleh tahu lokasinya di daerah mana?”

“Paling sering aku di daerah renon di jalan … (maaf nama jalan sengaja tidak kami sebutkan karena pertimbangan tertentu), kadang juga di daerah sekitar Gatsu Barat.”

“Ok, untuk pelanggan biasanya siapa aja?”

“Pada dasarnya siapa aja yang mau bayar sesuai rate ya aku service.”

“Berarti semua kalangan nih? He he..”

 “Yang penting duitnya.”

“Gak takut penyakit?”

“Takut ada, tapi aku udah punya langganan dokter kulit. Jadi ya, rutin lah aku check up”

“Ok deh, makasi waktunya ya, lain kali kita bisa ngobrol-ngobrol lagi khan?”

“Gak ah, sama temenku yang lain aja”

“Yang mana?”

“Itu yang aku tunjukin kemarin di pantai, yang tattonya dipungung bawah (maksudnya, sedikit diatas bokong).”

“Sip dah..”

**

Setelah basa-basi sejenak, akhirnya wawancara selesai sekitar pukul sembilan malam.

 

(Tim Apatis 2008 : An, Hr, Ar)

Aku Seorang Apatis

January 23, 2009 | Posted in Uncut, UnderCover | No Comments »

Apatis…

Menjadi seorang apatis di tengah-tengah masyarakat yang setengah sadar sedang sakit, tapi takut untuk mengakuinya. Bagaimanapun, seorang yang sakit kadang tidak merasakan keluhan-keluhan, takut untuk merasa tidak mampu, takut untuk berharap sehat kembali, dan beberapa ketakutan yang sengaja diciptakan sendiri.

Negatif, ya, bisa jadi apatis merupakan penciptaan negatif dari perilaku kita sendiri. Terhadap keadaan sekeliling, terhadap segala rasa, segala interaksi dalam masyarakat, dan banyak hal tentang kepedulian kita, tentang sensitifitas sosial masyarakat. Menjadi cuek, tanpa rasa, beku, dan seperti mati.

Ups, tunggu dulu.. Apakah apatis sedemikian parahnya sehingga kita kemudian memiliki pandangan serupa tentang apatis? Apatis yang negatif, apatis yang tidak layak hidup di tengah masyarakat yang heterogen, kemudian menjadikan apatis termasuk manusia yang teralienasi?

Apatis, mungkin merupakan cermin sakit hati. Karena ketidak berdayaan melawan hegemoni masyarakat yang terbentuk sedeminian hebatnya. Yang memaksakan pandangan serupa tentang segala hal, yang mendogma sehingga masyarakat punya hati yang sama dan seragam, lalu kemudian menciptakan masyarakat yang mandul.

Apatis, sekali lagi merupakan cermin sakit hati. Bisa jadi merupakan teguran, atau jeweran terhadap lingkungan sekitar yang tak henti-hentinya bergulat dengan persamaan-persamaan yang tidak esensional. Memaksakan sebuah perbedaan menjadi musuh bersama, yang pada gilirannya tertuju pada keseragaman yang mandul.

Ya, masyarakat yang mandul dan tidak berkembang. Masyarakat yang kronis sehingga tidak memerlukan penyembuhan apapun selain mati. Ternyata tidak sepenuhnya salah. Hehe..

Apapun itu, sebagai seorang apatis, bergerak menurut pemikirannya sendiri, tetaplah seorang manusia yang layak untuk hidup, layak untuk mengkritik, layak untuk didengar. Lihat, berapa banyak orang yang tidak sanggup mengkoreksi diri sendiri. Berapa banyak ketimpangan di sana-sini. Berapa banyak orang yang mengaku sehat tapi sengaja menutup mata? Sengaja menutup telinga.

Mungkin, tuli hati dan buta hati menjadi permanen karena terlalu lamanya orang yang merasa sehat, tidak tersentuh oleh kritik. Lama-lama lebih apatis dari kata apatis itu sendiri.

(apatis.bag.1.Dps23/01/09) 

apatis2008

View technorati.com

RSS .92|RDF 1.0|RSS 2.0|Atom|Comments RSS 2.0|Valid XHTML