Batam, ya Wisata ya Prostitusi
November 12, 2008 | Posted in Uncut | No Comments »

BATAM – Diakui atau tidak, perkembangan Kota Batam tidak lepas dari geliat kehidupan malam yang berbau bisnis prostitusi. Bisa dibilang wajah Kota Batam yang telah dipoles dengan bentuk berbagai rupa jenis industri toh tetap tidak mampu menguburkan para pencari uang yang melalui bisnis prostitusi.
Bisa dibilang Batam seolah tampil dengan dua wajah yang bertolak belakang. Sebagai kota yang pernah diangan-angankan oleh BJ Habibie sebagai wajah mini “Singapura” di Indonesia itu tetap menyisakan kehidupan malam yang secara diam-diam diminati segelintir pengunjung yang ingin “bermain cinta sesaat”.
Karena itu, jangan heran ketika berkunjung ke Batam, apalagi menjelang malam, di sepanjang sudut kota sebut saja di Nagoya, banyak dijumpai berbagai hiburan malam yang seolah terkesan legal. Hal serupa semakin liar di pinggiran kota. Bahkan, bisnis prostitusi itu telah merambah melalui rumah toko (ruko) yang bertebaran di Kota Batam dan sekitarnya.
Selain Nagoya, bisnis prostitusi juga marak di kawasan Mat Belanda, Sintae, Sameong dan Tangki Seribu atau dikenal dengan sebutan “Seribu Malam”. Untuk mendapatkan para pekerja seks komersial ini (PSK) di Kota Batam tidak terlalu sulit. Hampir sebagian besar sopir taksi di kota yang berpenduduk 750.000 itu bisa menjadi penuntun untuk masuk ke markas PSK tersebut. Bahkan, di antara sopir taksi malah secara terang-terangan menawarkan PSK dari berbagai tipe dan asal, termasuk lokasinya secara tepat.
Hamid (32) seorang sopir taksi yang ditemui SH secara terbuka menawarkan lokasi prostitusi di sebuah rumah toko (ruko) di bilangan Nagoya. ”Mau yang model apa ada di sana, Bang,” tuturnya tanpa malu-malu.
Ia bahkan mengaku bisa mencarikan PSK yang masih “kinclong” tentunya dengan tarif yang cukup mahal yakni sekitar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. “Kalau Abang mau saya bisa antarkan PSK yang masih kinclong itu. Pokoknya dijamin masih bau kencur deh,” tambah Hamid.
Ketika ditanya PSK dari etnis tertentu, sopir taksi yang satu ini pun menyatakan sanggup. ”Kalau Abang mau PSK dari etnis tertentu itu, saya bisa mengontak mami dan segera disiapkan,” timpalnya lagi.
Menurutnya, bukan rahasia umum lagi jika ada sopir taksi di Batam yang mendapat gaji tetap dari “mami” untuk mencari bahkan mengantarkan PSK ke pelanggannya. ”Ya lumayan dari setiap transaksi sang sopir taksi bisa mengantongi uang Rp 100.000 hingga Rp 150.000,” ungkap Hamid yang mengaku pernah nyambi sebagai pencari dan pengantar PSK tersebut.
Ia menuturkan, tarif PSK di Kota Batam dihitung per 12 jam, sementara tarif dihitung dari jumlah kencan untuk short time. Sekali kencan tarifnya antara Rp 200.000 hingga Rp 300.000. Itu belum termasuk biaya kamar. Selain itu, setiap tamu harus membayar minuman serta rokok yang dikonsumsi PSK.
Karena itu, katanya meski short time setiap tamu pada akhirnya harus mengeluarkan uang lebih dari Rp 500.000 bahkan lebih. ”Ya gimana ya. Si tamu harus membayar apa saja yang dikonsumsi si PSK. Kadang malah ada PSK yang aji mumpung, yakni mengonsumsi apa saja karena toh nantinya dibebankan ke sang tamu,” ungkapnya.
Mengenai pasokan PSK di Kota Batam, seorang sopir taksi lainnya menyebutkan selain dari kawasan sekitar Tanjung Pinang, pasokan PSK di Kota Batam juga banyak yang berasal dari Pulau Jawa seperti Indramayu, Subang, Karawang, Sukabumi, Cianjur, Jepara, Pati, Pekalongan, Semarang, Jember dan Banyuwangi.
Bolak-balik Jakarta
Seorang PSK yang ditemui SH di sebuah rumah toko yang telah berubah fungsi menjadi diskotek di bilangan Sei Jodoh Batam malah mengaku berasal dari Diskotek Stadium di bilangan Jakarta Barat. ”Saya enam bulan sekali di-rolling ke Batam oleh mami,” tutur Ayu (25) – bukan nama sebenarnya.
Perempuan dengan tubuh sintal dengan rambut pendek sebahu itu mengaku sudah hampir tiga tahun menjalani profesi sebagai PSK antara Batam dan Jakarta. ”Enam bulan di Diskotek Stadium, enam bulan berikutnya saya dikirim oleh mami ke Batam,” tuturnya lagi.
Ditanya penghasilan dari profesinya ini, Ayu yang bersuara berat ini mengaku, lumayan untuk dikirim ke Semarang, Jawa Tengah. ”Lumayan, Mas. Yang pasti dari setiap melayani tamu, saya bersih dapat Rp 100.000 hingga Rp 150.000. Jumlah itu dari mami. Kalau dapat tamu yang royal, kocek saya bisa lumayan tebal. Dan, yang pasti asal jangan tamu dari India. Payah. Udah gitu pelit lagi dan suka minta yang aneh-aneh,” paparnya.
Berbeda dengan Ayu, PSK di Batam ada pula yang solo karier. Artinya, mereka ini bermain tanpa mami. PSK jenis ini biasanya sudah berusia tua dan sudah tidak menjadi primadona dalam dunia prostitusi itu. Jenis PSK seperti ini bisa ditemui di Diskotek Sphink, Diskotek Pacific atau di Diskotek Santana. Namun, risiko tertular penyakit jauh lebih besar jika berhubungan dengan para PSK solo karier ini.
Jumlah diskotek di Batam menurut catatan Dinas Sosial Batam mencapai 50-an lebih.
Tidak diketahui secara pasti jumlah PSK di Kota Batam. Namun, Yayasan Setara Kita, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang advokasi dan perlindungan korban trafficking di Kota Batam menyebutkan, jumlah PSK di Kota Batam mencapai sekitar 4.000 orang. Dari jumlah itu, sekitar 2.500 orang berasal dari Jawa Barat seperti Indramayu, Subang, Karawang, Sukabumi dan Cianjur.
Kehadiran bisnis prostitusi di Kota Batam diakui atau tidak merupakan akibat akses kemajuan pembangunan industri dan pariwisata di daerah tersebut.
Di samping itu, lemahnya kontrol melalui produk kebijakan ditambah dengan kian memudarnya kontrol sosial dari masyarakat itu sendiri. Tidak adanya akar budaya lokal yang kuat di Batam menjadi faktor lainnya yang tidak bisa dikesampingkan, tentunya!
(habis)
Oleh
Norman Meoko
Copyright © Sinar Harapan 2003
Sumber :www.sinarharapan.co.id


Prostitusi di Makassar ternyata sudah terkenal di seantero negeri. Buktinya, anggota
Pontianak- Praktek prostitusi terselubung kian marak di Pontianak. Indikasi itu bisa ditemui di berbagai lokasi, seperti kawasan Jalan Tanjungpura, Gajah Mada, Setia Budi, H.Abbas dan Sungai Raya. Hal itu diungkapkan Hanafi Kasimin, SH, ketua Yayasan Wahana Dinamika Hukum Kalbar kepada


