Perempuan Harus Kenal Kondom
November 26, 2008 | Posted in UnderCover |
ORANG dengan HIV/AIDS (Odha) perempuan disinyalir punya beban lebih berat dibandingkan Odha laki-laki. Berdasarkan pengalaman yang ada, Odha perempuan, khususnya ibu rumah tangga, biasanya tetap berkewajiban mengurus keluarga.
Jika suami atau anaknya ada yang juga terinfeksi HIV, Odha perempuan kerap mendahulukan anggota keluarganya dalam menggunakan obat antiretroviral.
Kenyataan ini mendorong Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Yayasan Pelita Ilmu (YPI) menyelenggarakan Pelatihan Pemberdayaan Kesehatan dan Sosial bagi Kaum Perempuan.
Sekretaris Komisi Penanggulan AIDS (KPA) Nasional, Dr Nafsiah Mboi SpA, dalam situs Jaringan Aksi Nasional Pengurangan Dampak Buruk Narkoba Suntik mengungkapkan, separuh penduduk dunia yang terinfeksi HIV adalah perempuan.
Dan sebagian besar dari mereka tertular dari pasangan seksualnya.Tahun 2006, tercatat 193.000 Odha di Indonesia di mana 42.000 diantaranya adalah perempuan.
Tingginya infeksi HIV pada perempuan ini disebabkan oleh kurangnya informasi mengenai penyebaran HIV, serta ketidaktahuan dalam mencegah sindrom itu.
Di Indonesia, stigma bahwa HIV/AIDS hanya bisa menginfeksi Pekerja Seks Komersial (PSK) makin membuat kondom tak popular di kalangan perempuan.
Termasuk juga tak mengenal femidom, yaitu kondom untuk perempuan. Padahal, menurut Nafsiah, perempuan 2,5 kali lebih rentan terhadap HIV.
Artinya, sebanyak itu pula perempuan lebih butuh kondom daripada laki-laki. Vagina memiliki lapisan tipis (mukosa) yang lembut dan mudah terluka.
Anatomi tersebut membuat air mani bertahan lebih lama dalam rongga vagina bila terjadi penetrasi.
Dan jika air mani yang mengandung HIV dipancarkan ke dalam vagina, si perempuan akan tertular Infeksi Menular Seksual (IMS), termasuk HIV.
Menjangkau perempuan itu sulit. Bayangkan bagaimana mengumpulkan ibu-ibu rumah tangga. Akan lebih efektif jika kita mendatangi sebuah pabrik dan memberikan edukasi pada seluruh pegawai yang sebagian besar laki-laki.
Dengan kesadaran menggunakan kondom, laki-laki bisa melindungi isterinya dari tertular HIV kalau mereka suka jajan.
Dan kondom juga berefek kontrasepsi,kata Director for Health Care Yayasan Kusuma Buana, Dr Adi Sasongko, MA, pada Jurnal Nasional, Rabu (19/11).
Memang, tanpa kondom, pasangan yang berhubungan seksual saling setia (be faithful) terhindar dari kemungkinan terinfeksi HIV.
Namun, masih berisiko kehamilan tak diinginkan. Enny Zuliatie, Manajer Program Pencegahan HIV/AIDS bagi remaja yang melaksanakan program YPI (Dampingan Remaja Mal, Die-J) di Ciracas, menceritakan bahwa banyak remaja belum tahu kalau hubungan seksual tanpa kondom bisa mengakibatkan kehamilan.
Ada juga yang tahu kondom bisa mencegah kehamilan dan HIV, tapi dia hamil juga. Ketika ditanya, jawabannya karena pasangannya menolak.
Apalagi yang dibayar, ungkapnya ketika didatangi Jurnal Nasional di kantor YPI, Senin (17/11), Kejadian kehamilan tak diinginkan bisa berakibat fatal.
Ketidaksiapan psikologis seringkali membuat si calon ibu menggugurkan kehamilannya diam-diam. Perempuan tak kenal kondom bahkan bisa terinfeksi HIV dan hamil dalam waktu bersamaan.
Ada penyuluhan terhadap remaja putri untuk pencegahan. Termasuk menggunakan kondom bagi yang memerlukan.
Tapi, kalau sudah hamil, konseling bukan menentukan supaya mereka tidak aborsi. Konseling adalah pendampingan dan penginformasian mengenai pilihan yang bisa diambil.
Kalau melanjutkan kehamilan, kemungkinan harus berhenti sekolah. Kalau aborsi ada risiko sendiri. Apalagi kalau tidak aman, misalnya ke dukun, bisa mengakibatkan kematian, kata Enny lagi.
Menurut Enny, dari jumlah remaja hamil yang mengunjungi YPI, sekitar 20% memutuskan aborsi. Sisanya, memilih diteruskan.
Pertimbangannya karena masih sekolah atau karena di lingkungan kerjanya belum boleh menikah atau hamil.
Meski begitu, secara total kasus aborsi di Indonesia sangat tinggi. Berdasar data Depkes RI, angkanya mencapai 2,3 juta kasus tiap tahun per Agustus 2007. Dan ini belum termasuk aborsi ilegal atau non-medis. Ini memang masalah serius!by : Sjifa Amori
Sumber : http://www.aidsindonesia.or.id




