Prostitusi di Papua, Provinsi dengan Tingkat HIV/AIDS Tertinggi
Geliat bisnis berahi di Papua kini kian menggila. Tak heran, provinsi di ujung timur Indonesia ini menjadi tempat penularan HIV/AIDS tertinggi di negeri ini.
YUYUNG ABDI-LUSIE W, Surabaya
USIA gadis itu baru 15 tahun. Dia bahkan masih tercatat sebagai salah seorang siswi di SMP negeri di Jayapura. Namun, pada usia yang masih belia itu, Laura (bukan nama sebenarnya) sudah menjadi bagian dari dunia prostitusi di ibu kota Provinsi Papua tersebut.
Ketika ditanya Jawa Pos (induk Jambi Independent) soal alasan dirinya mau menjadi pelacur, gadis berkulit hitam berambut keriting dengan bola mata besar itu hanya tersenyum. Namun, dia mengaku mengakrabi seks sejak anak-anak. "Saya suka lihat film, Kaka (maksudnya Kakak, red)," ujarnya.
Yang dimaksud Laura adalah film biru. Lewat film itu, sejak usia bau kencur, dia sudah paham tentang orang bersebadan. Selain itu, wanita asli Papua tersebut menyatakan dikenalkan pacarnya pada seks. Akibatnya, Laura ketagihan. Dia pun menerjuni bisnis prostitusi pada usia ketika sebayanya masih aktif bermain dan belajar.
Untuk gadis seusia Laura, pria hidung belang harus merogoh kocek Rp 150 ribu untuk sekali kencan. Oleh Laura, uang itu biasanya digunakan berpesta bersama teman-temannya atau membeli barang-barang konsumtif lainnya.
Bagi sebagian orang, gadis-gadis belia seperti Laura memang menawarkan tantangan tersendiri. Sebab, ketika mem-booking anak sekolah, laki-laki hidung belang harus bersikap sabar dan ngemong. Sebab, para gadis cilik tersebut benar-benar masih kekanak-kanakan. Mereka fasih bahasa gaul, tapi kadang tak nyambung saat diajak mengobrol yang agak serius oleh para pem-booking.
Gadis-gadis cilik dan para wanita asli Papua biasanya memilih terjun sebagai PSK jalanan atau menghuni bar-bar kelas bawah.
Maraknya dunia prostitusi di Papua sudah bertaraf sangat memprihatinkan. Murphy J. Sembiring, seorang pekerja sosial yang juga dosen Fakultas Ekonomi Universitas dr Soetomo (Unitomo), Surabaya, kini sedang menyusun laporan tentang fenomena perkembangan HIV/AIDS di sana. Fakta yang dia temukan sangat mengejutkan.
Selama tujuh hari berada di Bumi Cenderawasih itu, Murphy menemukan bahwa Papua telah banyak berubah. "Kehidupannya berbeda jauh dengan keadaan 16 tahun lalu," kata pria yang juga ketua Program Sosial Pencegahan AIDS dan Narkoba (Propasna), sebuah LSM yang fokus pada bidang AIDS, narkoba, dan penyakit sosial.
Dua windu silam, Murphy menjadi dosen di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Jayapura. Ketika Murphy memutuskan hijrah dari Papua pada 1991, hanya ada satu tempat yang membuka praktik prostitusi terselubung. Saat ini, bisnis prostitusi itu telah berkembang pesat.
Di kota seperti Jayapura, ada ratusan tempat yang menyediakan servis plus. Umumnya, tempat-tempat itu berwajah panti pijat, salon, bar, atau karaoke.
Karena itu, kata Murphy, tingkat rata-rata penyandang HIV/AIDS di Papua sungguh mencengangkan. Hingga akhir 2006, data yang dirilis Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Depkes Indonesia menyebutkan, tingkat prevalensi tiap 100 ribu penduduk di Papua, 51,42 persen tertular AIDS. Angka tersebut tertinggi di Indonesia.
Bedanya lagi, penularan AIDS di Papua, hingga akhir 2006 secara akumulasi ditemukan 947 kasus, juga mempunyai hal yang khusus. Yakni, yang terbanyak diduga disebabkan kontak seksual. Bukan dari jarum suntik seperti yang ditemukan di DKI Jakarta, misalnya.
"Itu memang tidak mengherankan. Situasi di sana mendukung berkembangnya penyakit tersebut," jelas pria kelahiran Binjai itu.
Seperti yang disaksikan Jawa Pos, para PSK kian berani turun ke jalan. Selama perjalanan dari Jayapura ke Wamena, "bunga-bunga trotoar" itu terlihat di sepanjang jalan. Dulu, selepas Magrib, hampir tak ada orang berlalu-lalang di jalanan. "Kini, nyaris tak ada jalan yang sepi," ujarnya.
Selain gadis lokal Papua, banyak di antara para PSK itu yang berasal dari luar Papua. Mereka datang dari Jawa Timur, Manado, Sulawesi Selatan, dan lain-lain. Oleh para pria hidung belang, wanita-wanita itu disebut "paha putih". Pria yang menjadi konsumen mereka rela antre berhari-hari hanya untuk mendapatkan waktu beberapa jam bersama PSK "paha putih" itu. "Mereka biasa melakukannya beramai-ramai, tanpa memakai alat pengaman," ungkap Murphy.
Bagi sebagian PSK, Papua memang menjadi tempat yang menjanjikan. Banyak wanita yang sengaja merantau ke Papua hanya untuk melacur. Seimbang dengan biaya hidup dan harga kebutuhan pokok yang tinggi, tarif booking di sana pun dianggap lebih mahal dibandingkan daerah lain.
"Minimal bisa dua kali lipat dibandingkan di Jawa," kata seorang PSK asal Jatim yang ditemui Jawa Pos di kawasan remang-remang di Tanjung Elmo, Sentani.
*
MATAHARI sore baru saja tenggelam. Namun, gemerlap dunia malam di Entrop –sekitar 10 menit perjalanan dari pusat kota Jayapura– sudah terasa. Sore itu salah satu bar di kawasan lembah tersebut sudah dikunjungi banyak tamu. Dari jarak 25 meter, dentuman musik sudah terdengar.
Begitu memasuki gedung, pengunjung langsung disambut oleh para pramuria. Selain untuk makan-minum, tamu bisa menghabiskan malam di sana dengan berkaraoke.
Ada dua pilihan untuk menikmati suasana di sana. Tamu dapat memilih bersenang-senang di hall, bercampur dengan pengunjung lain, atau VIP room yang menawarkan privasi. Pilihan terakhir tentu lebih mahal. Sebab, tamu harus mengeluarkan Rp 50 ribu untuk sekadar membayar ruang. Kalau ditambah harga makanan, minuman, dan servis pramuria yang biasanya dipatok di atas rata-rata, dalam semalam Rp 1,5 juta bisa habis di tempat itu.
Yang sering menyewa VIP room adalah kalangan pengusaha atau pejabat. Mereka berkelompok menikmati minuman dan makanan sembari berkaraoke ditemani pramuria yang di-booking sebelumnya.
Para pekerja seks komersial (PSK) perantau dari Manado yang biasanya mendominasi isi bar atau karaoke seperti itu. Namun, tak sedikit pula yang berasal dari Makassar dan Ambon.
“Saya datang ke sini agar bisa banyak menabung,” kata Yulia (bukan nama sebenarnya), wanita pendamping karaoke di sana.
Menurut wanita asal Makassar tersebut, uang yang dia terima untuk kencan (tidak sekadar jadi pendamping karaoke) memang cukup untuk mengirim uang belanja kepada keluarga di rumah.
Untuk booking duduk (istilah untuk menemani tamu karaoke), dia bisa menerima tip Rp 50 ribu–100 ribu. Kalau booking out (dibawa kencan ke luar), dia bisa dapat duit Rp 750 ribu–900 ribu satu malam. Dengan duit itu, Yulia bisa memberangkatkan sang ibu menunaikan ibadah haji.
Yulia hanya tertawa kecil ketika disinggung tentang perolehan uang yang tidak halal untuk ibadah itu. “Jangan bicara halal atau haram. Apakah pejabat yang naik haji pakai duit korupsi juga halal?” ujarnya.
Wanita itu mengakui, pelanggannya rata-rata memang kalangan atas. Biasanya pejabat, karyawan perusahaan besar atau perusahaan asing di Papua.
Bar dan karaoke yang bertebaran di kawasan sekitar Jayapura hanyalah salah satu tempat transaksi untuk bisnis esek-esek seperti itu.
Seperti yang dialami Jawa Pos, pada perjalanan dari Sentani menuju Jayapura, ada “modus lain” yang ditemui di Waena, Abepura, Kotaraja, Entrop, sebelum akhirnya masuk kota Jayapura.
Bisnis prostitusi di Waena, misalnya, dibungkus dalam bentuk panti pijat. Tentu panti pijat plus-plus yang menyediakan layanan khusus untuk pelanggan setia. Beberapa pramuria –banyak di antaranya berasal dari Jatim– disiapkan untuk menyervis setelah pijat selesai.
Di kawasan Abepura, hanya terlihat PSK jalanan. Belum ada panti pijat yang berdiri di sana. Sebaliknya, di Kotaraja, justru banyak bar yang tumbuh. Beberapa yang cukup punya nama adalah Hailai, Horison Club, Hollywood.
Di kawasan Entrop bar dan panti pijat tumbuh bersamaan. Namun, jumlah bar lebih banyak daripada panti pijat. Perbandingannya sekitar 55: 45 persen. Beberapa bar yang terkenal adalah Boulevard, Hollywood, dan Musi. Karena bar-bar dan karaoke itu tak menyediakan “kamar”, maka hotel-hotel short time pun menjamur.
Sama dengan di kawasan lain, Entrop pun memiliki wilayah mangkal para PSK jalanan. Misalnya di pertigaan Kantor Camat Jayapura Selatan.
Banyak panti pijat di sana yang menyediakan kamar VIP. Tamu yang ingin menikmati layanan ekstra tak harus “main” di kamar-kamar yang hanya ditutup gorden.
Kehidupan seks yang “berkilau” justru ada di Sentani. Di kawasan dengan danau yang indah itu, ada panti pijat, bar, hingga PSK jalanan yang menggaet mangsa di depan ruko. Sentani juga punya Tanjung Elmo, lokalisasi di sisi laut dengan pemandangan yang menakjubkan.
Tanjung Elmo atau yang akrab disebut sebagai Sentani Belok Kiri bisa ditempuh sekitar 1 jam perjalanan darat dari pusat kota. Ada 20 wisma besar dan 20 wisma kecil yang berdiri tempat itu. Yang menarik, di lokalisasi itu ada musala berhias lampu kerlap-kerlip layaknya sebuah wisma.
Sekitar dua dekade lalu, pada dekade 80-an, di sana pernah berdiri lokalisasi rumah panjang dengan nama Putri Papua. Namun, lokalisasi itu akhirnya tutup dan tak mampu bersaing setelah Tanjung Elmo berdiri.
Memang, dari sisi kualitas, lokalisasi Tanjung Elmo punya nilai plus. Sebagian besar wisma dilengkapi karaoke. Kebanyakan para PSK-nya pun “diimpor” dari Jatim. Karena banyak yang bertutur kata bahasa Jawa, masuk ke sana seperti masuk ke kampung di Jawa.
Kelebihan lain, tarif booking-nya pun tak terlampau tinggi. Cukup Rp 100 ribu–150 ribu. Karena murah, banyak ABG asli Papua yang “belajar seks” melalui para PSK di Tanjung Elmo.
Di Jayapura sejumlah karaoke dan bar berdiri di beberapa penjuru kota. Jumlah mereka relatif berimbang. Prostitusi jalanan di kota itu ada di daerah depan kantorg, Bank Papua, dan Taman Indi.
“Fenomena itu sangat meresahkan,” kata Yusak Atanai, salah seorang anggota Komisi E DPRD Papua. Menurut Yusak, saat ini jumlah PSK dan para pelanggannya sudah semakin banyak. Karena itu, tak heran provinsinya kini kian digerogoti HIV/AIDS.
Yusak berkisah, penyakit itu memasuki tanah Papua melalui jalur perdagangan. Para pelaut Thailand yang diduga terinfeksi HIV berlayar ke Merauke, Papua, untuk menjual barang dagangan mereka. Tidak hanya berdagang, pelaut itu melakukan hubungan seksual dengan PSK di sekitar pelabuhan. Secara otomatis, PSK tersebut tertular virus yang dibawa para pelaut tersebut, kemudian menyebar ke penduduk Papua.
Maraknya prostitusi yang mengakibatkan tingginya penularan HIV-AIDS itu didukung oleh kebiasaan dan budaya masyarakat Papua. Mereka senang sekali minum minuman keras. “Setelah minum, mereka pasti melakukan hubungan seksual. Dan itu selalu beramai-ramai,” ungkap Yusak.
Menurut bapak dua anak itu, seks bebas menjadi hal yang biasa di tanah kelahirannya itu. Para pemuda di sana dapat berganti-ganti pasangan dengan mudahnya tanpa konsekuensi apa pun. Para pria di pedalaman Papua juga memiliki kebiasaan membawa seorang wanita ke dalam hutan dan melakukan hubungan seksual di sana. Setelah melakukan hal itu, mereka kembali ke kampung halaman tanpa perlu melangsungkan pernikahan.
Pedagang atau investor pendatang dari luar pulau juga menambah kecepatan penyebaran HIV-AIDS di Papua. Mereka kerap menggunakan kelemahan masyarakat Papua –minuman keras dan wanita– untuk mendapatkan keinginan mereka.
“Untuk melancarkan perdagangan, mereka sengaja membawa wanita dari luar pulau dan minuman impor,” katanya.
Yusak berharap pemerintah Papua segera menangani permasalahan itu. “Jika dibiarkan terus-menerus, lama kelamaan suku Papua bisa punah karena penyakit mematikan ini,” ujarnya.
(Sebagian laporan diperoleh dari Cenderawasih Post)
sumber : www.jambi-independent.co.id