AYO! IKUTAN DAPET DUIT GRATIS DARI KOMISI GRATIS KLIK DISINI




Catatan Harian Seorang Apatis

↑ Grab this Headline Animator

Menjelajah Nasi jinggo plus plus

August 22, 2008 | Posted in Underground | Comments (1)

Nasi jinggo yang sangat populer di denpasar muncul pertama kali di tahun 1985. Di sebuah gang kecil dekat pasar Badung dan Kumbasari, di Jalan Gajah Mada, Denpasar. Sebutan nasi jinggo yang selama ini beredar bahwa berasal dari kata "cenggo", tidak sepenuhnya benar. Hal ini merujuk pada kemunculan nasi jinggo pertama kali, sekitar tahun 1985, dengan harga Rp 500,- per bungkus. Pada tahun tersebut, bisa sampai disebut nasi jinggo karena digelar mulai tengah malam, sehingga kelompok konsumennya adalah masyarakat yang bekerja di malam hari (seperti sopir-sopir angkot di pasar, dan petugas keamanan sekitar pasar), yang mereka sebut "Jinggo" atau jagoan dalam film-film koboy. Kebetulan di era itu film-film koboy begitu populer.

Beberapa tahun kemudian, seiring dinamisnya harga-harga termasuk harga kebutuhna pokok, harga nasi jinggo pun menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Di pertengahan tahun ‘90an telah ada nasi jinggo dengan harga Rp 1500,- per bungkus. Kemudian sampai di akhir tahun ‘90an atau awal-awal tahun 2000, sebutan nasi jinggo lebih populer disebabkan karena harganya yang "cenggo" (Tionghoa-Betawi), maksudnya 1500 atau nasi bungkus 1500an.

Nasi jinggo adalah nasi yang dibungkus daun pisang berisi sedikit mie, sedikit kelapa parut (Serundeng: Jawa/ Saur: Bali), sepotong tempe goreng sebesar setengah jari kelingking orang dewasa, secuil daging ayam/sapi/babi, dan sambal yang tidak sedikit yang super pedas. Nasi bungkus sebesar kepalan tangan orang dewasa ini mudah ditemui di kota Denpasar antara lain di Jl. Gajah Mada, Jl. Diponegoro, Jl. Thamrin, Jl Imam Bonjol, dan Jl Gunung Agung.

Kali ini kita akan coba menelusuri nasi jinggo dengan layanan ekstra, atau layanan plus plus. Sampel diambil di empat lokasi, yaitu di Jl Gatot Subroto (Gatsu Barat), Jl Thamrin , Jl Diponegoro, dan Jl Gunung Agung. Lokasi pertama yang kita kunjungi adalah Jl Gatot Subroto (Gatsu Barat). Kita temui dua orang wanita muda pedagang nasi jinggo. Sample pertama sebut saja Menor (21), mengaku berasal dari daerah gersang di timur Bali. Sample kedua sebut saja Bantet (22), asal dari daerah panas di utara Bali. Keduanya berdagang di dua lokasi yang berbeda di seputaran Gatsu Barat.

Menor, yang kost di daerah Ubung bersama seorang temannya mengaku telah dua tahun bekerja sebagai penjaga dagangan nasi jinggo. Semua dagangan bukan miliknya. Ada bos yang menyuplai semua. Basa-basi dilakukan sekedar menghangatkan suasana. Pemandu kami tengah serius melancarkan aksinya. Pertanyaan-pertanyaan seputar layanan plus-plus sudah disodorkan. Setelah beberapa kali negosiasi, akhirnya jadwal kencan bisa dibuat. Perlu diketahui, kami tidak berhasil menjadwalkan kencan dalam sekali pertemuan. Meski katanya (ahh..katanya) sudah punya pacar, kencan pun sukses digelar. Tapi kali ini tidak dilakukan di kostnya (mungkin takut ketahuan pacar), seperti pengalaman pemandu kami, kali ini deal kencan di sebuah penginapan di Jl Pidada, Ubung.

Sample kedua, Bantet, punya wajah cukup menarik, hobi memakai pakaian super ketat, dan belum punya pacar. Dengan yang satu ini pemandu kami cukup “dekat” sehingga memudahkan kami untuk mengatur jadwal kencan. Lebih fleksibel karena bisa short time di penginapan atau menyelinap diam-diam ke kamar kostnya.

Lokasi kedua yaitu di Jl Thamrin. Di lokasi ini kita mesti hati-hati karena tidak semua nasi jinggo punya layanan ekstra plus-plus. Hanya satu dua pemain saja yang mengisi pos plus-plus ini. Dan letaknya sebelum wisata 21 kalau datang dari barat (tidak mungkin dari timur, karena jalannya satu arah).

Lokasi ketiga, yaitu Jl Diponegoro. Seperti halnya di Jl Thamrin, di Jl Diponegoro tidak semuanya bisa “dipakai”. Berbeda seperti di Jl Gatot Subroto Barat yang hampir semuanya menyediakan extra service plus bonus, kalo mau. Dan Lokasi terakhir atau keempat adalah di Jl Gunung Agung, yang nuansanya mirip dengan kedua lokasi sebelumnya (Jl Thamrin dan Jl Diponegoro). Sebagai tambahan informasi, pengalaman pemandu kami pernah “memacari” pedagang nasi jinggo di seputaran Jl Diponegoro dan Jl Gunung Agung. Metodenya cukup sederhana, yaitu dengan melakukan pendekatan persuasif sekaligus melakoni profesi sebagai tukang ojek. Seperti halnya bartok (bubar toko), berhubung yang bubar adalah nasi jinggo, mungkin boleh disebut barnasgo (bubar nasi jinggo).

Selamat menjelajah.

(Tim Apatis 99-08. Eqk,Bkr,Ngr,Dwa)

Dirgahayu Indonesia

August 16, 2008 | Posted in Uncut, Underground, UnderCover | No Comments »

 

Mengintip Lokalisasi Padang Galak Sanur

August 14, 2008 | Posted in Underground | Comments (1)

Bagi anda penghobi dunia malam dan kebetulan butuh penyegaran, sekedar selingan dari penatnya bekerja, atau mungkin kantong pas-pasan tapi pengen jajan, atau sekedar pengen tau nikmatnya esek-esek kelas ekonomi non AC, lokalisasi Padang Galak adalah salah satu tempat yang cukup representatif sebagai tempat hiburan malam di Denpasar.

Sabtu malam, medio Juni 2008, sekitar pukul 21:43 Wita, kami bergerak dari pusat kota Denpasar menuju arah Sanur menyusuri kawasan Renon, Jalan Cok Agung Tresna, Tanjung Bungkak, dan Jalan Hang Tuah. Kemudian membelok ke kiri di perempatan Jalan Bypass Ngurah Rai menuju arah utara. Tak seberapa lama melewati jalan yang didominasi areal persawahan, tampak sebuah jalan kecil beraspal seadanya. Jalan tak bernama itulah jalan masuk ke lokalisasi tersebut. Kurang lebih jarak lokalisasi sekitar 500 meter dari mulut jalan.

Kami membelok perlahan memasuki halaman parkir yang sedikit gelap. Barisan sepeda motor tampak berjajar, terparkir rapi. Priit, suara peluit juru parkir, dengan membawa senter, mengarahkan kami ke tempat yang lowong.

Lorong-lorong gelap, sebagian tersinari lampu pijar bercahaya redup. Jalan tanah liat berpasir dan sedikit berbatu menghubungkan antara blok satu dengan blok lainnya. Di beberapa blok terpampang billboard bertuliskan Wisma. Dalam tiap blok/ wisma terdapat kamar-kamar semi permanen berukuran 3×4 meter, dengan satu tempat tidur, satu meja, satu bangku kecil. Serta tersekat sedikit di tiap sudut belakang kamar, satu bak air kecil yang dibatasi batako setinggi dada orang dewasa. Menyusuri lorong demi lorong dalam keremangan, menjelajah wisma dan kamar-kamar, aroma kotoran sapi sempat menyusup ketika kami melewati salah satu lorong utama.

“Ngewek mas?” Sapa manja salah seorang PSK bertubuh subur kepada kami yang melewati wismanya.

“Berapaan?” Tanya salah seorang dari kami.

“Biasa, mas. Empat puluh ribu.”

“Karaoke?”

“Ya gak lah, mas. Sekali naik aja.”

“Ya nanti ya, mau liat-liat dulu”

Di wisma yang lain, kami dapati juga sapaan manja seperti PSK tadi. Obrolan-obrolan singkat dan basi, sesekali menawar, juga pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban asal yang tak penting.

“Bir sebotol berapa mbak?”

“Dua lima”

“Kok mahal mbak?”

“Air putih mau?”

Kebanyakan dari mereka mengaku berasal dari daerah Jember dan Banyuwangi. Mengaku bekerja sebagai PSK karena terpaksa, dengan berbagai alasan keterpaksaan yang dipaksa-paksakan. Dan terpaksa tidak bisa kami sebutkan satu persatu alasan-alasan tersebut (..hehehe).

“Ayo mas, ngewek. Ntar jam satu tutup lho”

“Bukannya tutup jam empat?”

“Jam satu, mas.”

“Gak usah lama-lama milih, mas. Semua rasanya sama. Sama-sama p***k.”  kata PSK lain dengan dialek Maduranya yang kental.

Benar saja, tepat pukul satu dinihari, satu persatu lampu pijar yang tadinya menyala tiba dipadamkan. Wow, dan kami terpaksa diusir tanpa ngewek. Bunyi sirene pecalang (satgas lokal desa adat) dan pasukannya, membubarkan segala aktivitas.

(Tim Apatis 2008. :: Irv, Ard, Jug, Par)

apatis2008

View technorati.com

RSS .92|RDF 1.0|RSS 2.0|Atom|Comments RSS 2.0|Valid XHTML